Archive for the ‘.(QS. 47:4) Surah Muhammad 4’ Category

(QS. 4:89) Surah An Nisaa’ 89,(QS. 5:54) Surah Al Maa-idah 54,.(QS. 47:4) Surah Muhammad 4,

December 19, 2008

89 Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka). Maka janganlah kamu jadikan di antara mereka penolong-penolong (mu), hingga mereka berhijrah pada jalan Allah. Maka jika mereka berpaling, tawan dan bunuhlah mereka di mana saja kamu menemuinya, dan janganlah kamu ambil seorangpun di antara mereka menjadi pelindung, dan jangan (pula) menjadi penolong,(QS. 4:89) ::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah An Nisaa’ 89
وَدُّوا لَوْ تَكْفُرُونَ كَمَا كَفَرُوا فَتَكُونُونَ سَوَاءً فَلَا تَتَّخِذُوا مِنْهُمْ أَوْلِيَاءَ حَتَّى يُهَاجِرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَخُذُوهُمْ وَاقْتُلُوهُمْ حَيْثُ وَجَدْتُمُوهُمْ وَلَا تَتَّخِذُوا مِنْهُمْ وَلِيًّا وَلَا نَصِيرًا (89)
Dalam ayat ini Allah SWT menjelaskan sifat-sifat orang-orang munafik itu, yang oleh sebahagian kaum muslimin ketika itu dibela dan hendak diberi petunjuk, serta diharapkan bantuan mereka untuk memperkuat kaum muslimin. Sifat orang-orang munafik itu jauh berbeda dari orang-orang kafir, yang sudah senang dengan kekafiran mereka dan tidak mengganggu orang lain. Adapun orang-orang munafik ini, mereka tidak hanya sekadar bermuka dua terhadap kaum muslimin, melainkan juga ingin mengembalikan kaum muslimin kepada kekafiran, dan sesudah itu mereka akan melenyapkan Agama Islam dari muka bumi ini. Oleh karena demikian buruknya niat dan perbuatan orang-orang munafik itu, maka Allah SWT memperingatkan kaum muslimin sekali lagi, agar jangan sekali-kali mempercayai mereka dan janganlah menjadikan mereka sebagai teman dan penolong, kecuali mereka benar-benar telah menganut Agama Islam dan sudah sesuai perbuatan mereka dengan ucapan-ucapannya, dan telah bersatu padu dengan kaum muslimin dalam akidah, sikap dan perbuatan, bukan hanya sekadar tunduk karena mereka dalam keadaan lemah. Jika mereka benar-benar telah beriman, tentulah mereka tidak akan meninggalkan Nabi dan kaum muslimin dalam menghadapi kesulitan-kesulitan. Dan mereka tentu akan selalu bersama Nabi dan kaum muslimin, karena hal itu adalah dorongan iman yang kuat di dalam hati seseorang. Maka keengganan untuk mengikuti Nabi adalah suatu tanda lemahnya keimanan dan belum adanya keikhlasan untuk membela Agama Islam.
Oleh sebab itu Allah SWT memerintahkan bilamana ternyata mereka itu tidak mau beriman, berhijrah di jalan Allah, maka hendaklah kaum muslimin menawan dan membunuh mereka itu, dan janganlah menjadikan mereka sebagai pelindung dan penolong.
Dari ayat ini dapat diambil pengertian bahwa yang menjadi alasan pokok bagi perintah untuk menawan dan membunuh mereka itu, ialah sifat mereka yang tidak jujur kepada kaum muslimin, serta perbuatan mereka yang dilakukan dengan sembunyi untuk menghancurkan Islam dan kaum muslimin. Tindakan terhadap mereka itu dipandang sebagai suatu keharusan yang perlu dilakukan untuk keselamatan Islam dan kaum muslimin. Tindakan itu harus dihentikan apabila ternyata mereka itu telah menghentikan pula sikap dan perbuatan mereka yang bersifat bermusuhan terhadap Islam dan kaum muslimin.

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah An Nisaa’ 89
وَدُّوا لَوْ تَكْفُرُونَ كَمَا كَفَرُوا فَتَكُونُونَ سَوَاءً فَلَا تَتَّخِذُوا مِنْهُمْ أَوْلِيَاءَ حَتَّى يُهَاجِرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَخُذُوهُمْ وَاقْتُلُوهُمْ حَيْثُ وَجَدْتُمُوهُمْ وَلَا تَتَّخِذُوا مِنْهُمْ وَلِيًّا وَلَا نَصِيرًا (89)
(Mereka ingin) atau mengangan-angankan (agar kamu kafir hingga kamu menjadi sama) dengan mereka dalam kekafiran (maka janganlah kamu ambil di antara mereka sebagai pembela) yang akan membelamu walaupun mereka menampakkan keimanan (hingga mereka berhijrah di jalan Allah) yakni benar-benar hijrah yang membuktikan keimanan mereka. (Jika mereka berpaling) dan tetap atas keadaan mereka (maka ambillah mereka itu) maksudnya tawanlah (dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai dan janganlah kamu jadikan seorang pun di antara mereka sebagai pelindung) yang akan melindungimu (dan tidak pula sebagai penolong) yang akan kamu mintai pertolongan untuk menghadapi musuh-musuhmu.

54 Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.(QS. 5:54)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Maa-idah 54
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ (54)
Dalam ayat itu terkandung berita tantangan yang akan terjadi, yaitu akan murtadnya nanti sebahagian orang mukmin. Mereka akan keluar dari Islam dengan terang-terangan. Keluarnya mereka dari Islam tidaklah akan membahayakan orang mukmin, tetapi sebaliknyalah yang akan terjadi, yaitu Allah akan menggantinya dengan orang-orang yang lebih kuat imannya dan lebih baik amal perbuatannya sebagai pengganti mereka yang murtad itu.
Menurut riwayat Ibnu Jarir dari Qatadah, dia menceritakan bahwa setelah Allah menurunkan ayat ini, diketahuilah bahwa akan terjadi beberapa kelompok manusia akan murtad, yaitu keluar dari agama Islam. Peristiwa itu kemudian benar-benar terjadi, ketika Nabi Muhammad saw. berpulang ke rahmatullah, maka pada waktu itu murtadlah sebagian orang dari Islam, terkecuali dari tiga tempat, yaitu penduduk Madinah, penduduk Mekah dan penduduk Bahrain. Di antara tanda-tanda murtad mereka ialah bahwa mereka tidak mau lagi mengeluarkan zakat. Mereka mengatakan, “Kami akan tetap bersalat, tetapi kami tidak mau mengeluarkan zakat. Demi Allah, tidak boleh dirampas harta kami.” Maka khalifah Abu Bakar ketika itu terpaksa mengambil tindakan keras. Orang-orang yang murtad itu diperangi, sehingga di antara mereka ada yang mati, ada yang terbakar dan ada pula yang ditangkap, sehingga akhirnya mereka kembali bersedia membayar zakat.
Peristiwa terjadinya orang-orang murtad ini sudah banyak sekali. Di dalam sejarah disebutkan bahwa pada masa Nabi Muhammad saw. masih hidup telah terjadi tiga kali peristiwa orang-orang murtad, yaitu:
1. Golongan Bani Mudhij yang dipelopori oleh Zulkhimar, yaitu Al-Aswad Al-Ansy seorang tukang tenung. Dia mengaku sebagai nabi di negeri Yaman, akhirnya dia dihancurkan Allah, dibunuh oleh Fairuz Ad-Dailami.
2. Golongan Bani Hanifah, yaitu kaum Musailamah Al-Kazzab. Musailamah mengaku dirinya sebagai nabi. Pernah dia berkirim surat kepada Nabi Muhammad saw. mengajak beliau untuk membagi dua kekuasaan di negeri Arab. Dia memerintah separoh negeri dan Nabi Muhammad saw. memerintah yang separoh lagi. Nabi Muhammad saw. membalas suratnya itu dengan mengatakan bahwa bumi ini adalah kepunyaan Allah dan Allah akan mempusakakan bumi ini kepada siapa yang dikehendaki di antara hamba-Nya dan bahwa kemenangan terakhir akan berada pada orang yang bertakwa kepada-Nya. Akhirnya Musailamah diperangi oleh Khalifah Abu Bakar dan ia mati dibunuh oleh Wahsyi yang dulu pernah membunuh Hamzah, paman Nabi pada perang Uhud.
3. Golongan Bani Asad, pemimpinnya bernama Tulaihah bin Khuwailid, dia juga mengaku dirinya menjadi nabi, maka Aba Bakar memerangi dengan memberitahukan Khalid bin Walid untuk membunuhnya. Dia mundur dan lari ke negeri Syam dan akhirnya dia kembali menjadi seorang muslim yang baik.
Sesudah Nabi Muhammad saw. meninggal, yaitu pada masa Khalifah Abu Bakar, banyak benar terjadi golongan-golongan yang murtad terdiri dari 7 golongan, yaitu:
1. Ghathafan
2. Bani Khuza`ah
3. Bani Salim
4. Bani Yarbu’
5. Sebagian Bani Tamim
6. Kindah
7. Bani Bakr
Orang-orang yang menggantikan orang-orang murtad itu, selalu mengatakan kebenaran dan membantu perjuangan Islam, ditandai oleh Allah dengan enam sifat yang penting, yaitu:
1. Allah mencintai mereka karena keimanan dan keyakinan mereka dalam berjuang.
2. Mereka cinta kepada Allah karena perintah Allah lebih diutamakan dari urusan-urusan yang lain.
3. Mereka bersikap lemah-lembut terhadap orang mukmin.
4. Terhadap orang kafir mereka bersikap keras dan tegas.
5. Berjihad fisabilillah, yaitu bersungguh-sungguh dalam menegakkan agama Allah, mau berkorban dengan harta dan dirinya dan tidak takut berperang menghadapi musuh agama.
6. Mereka tidak takut terhadap cacian dan celaan, tidak takut kepada gertakan dan ancaman. Sebab mereka senantiasa dalam beramal, berjuang, buka mencari pujian dan sanjungan manusia, bukan juga mencari pangkat dan kedudukan dan bukan pula mencari nama dan tuah. Yang mereka cari hanyalah keridaan Allah semata.
Sifat-sifat yang tersebut itu adalah karunia Allah kepada hamba-Nya yang diberikan kepada siapa yang dikehendaki. Dengan sifat-sifat itulah derajat seseorang menjadi tinggi dan mulia di hadapan manusia, dan lebih-lebih di hadapan Allah yang mempunyai karunia yang besar. Semuanya itu akan dapat diperoleh dengan jalan mendekatkan diri kepada-Nya serta memperbanyak ibadah dan bersyukur.

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al Maa-idah 54
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ (54)
(Hai orang-orang yang beriman! Siapa yang murtad) yartadda pakai idgam atau tidak; artinya murtad atau berbalik (di antara kamu dari agamanya) artinya berbalik kafir; ini merupakan pemberitahuan dari Allah swt. tentang berita gaib yang akan terjadi yang telah terlebih dahulu diketahui-Nya. Buktinya setelah Nabi Muhammad saw. wafat segolongan umat keluar dari agama Islam (maka Allah akan mendatangkan) sebagai ganti mereka (suatu kaum yang dicintai oleh Allah dan mereka pun mencintai-Nya) sabda Nabi saw., “Mereka itu ialah kaum orang ini,” sambil menunjuk kepada Abu Musa Al-Asyari; riwayat Hakim dalam sahihnya (bersikap lemah lembut terhadap orang-orang mukmin dan bersikap keras) atau tegas (terhadap orang-orang kafir. Mereka berjihad di jalan Allah dan tidak takut akan celaan orang yang suka mencela) dalam hal itu sebagaimana takutnya orang-orang munafik akan celaan orang-orang kafir. (Demikian itu) yakni sifat-sifat yang disebutkan tadi (adalah karunia Allah yang diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan Allah Maha Luas) karunia-Nya (lagi Maha Mengetahui) akan yang patut menerimanya. Ayat ini turun ketika Ibnu Salam mengadu kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah! Kaum kami telah mengucilkan kami!”

4 Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir (di medan perang) maka pancunglah batang leher mereka. Sehingga apabila kamu telah mengalahkan mereka maka tawanlah mereka dan sesudah itu kamu boleh membebaskan mereka atau menerima tebusan sampai perang berhenti. Demikianlah, apabila Allah menghendaki niscaya Allah akan membinasakan mereka tetapi Allah hendak menguji sebagian kamu dengan sebagian yang lain. Dan orang-orang yang gugur pada jalan Allah, Allah tidak akan menyia-nyiakan amal mereka.(QS. 47:4)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Muhammad 4
فَإِذَا لَقِيتُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا فَضَرْبَ الرِّقَابِ حَتَّى إِذَا أَثْخَنْتُمُوهُمْ فَشُدُّوا الْوَثَاقَ فَإِمَّا مَنًّا بَعْدُ وَإِمَّا فِدَاءً حَتَّى تَضَعَ الْحَرْبُ أَوْزَارَهَا ذَلِكَ وَلَوْ يَشَاءُ اللَّهُ لَانْتَصَرَ مِنْهُمْ وَلَكِنْ لِيَبْلُوَ بَعْضَكُمْ بِبَعْضٍ وَالَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَلَنْ يُضِلَّ أَعْمَالَهُمْ (4)
Ayat ini menerangkan cam menghadapi orang-orang kafir dalam peperangan. Allah SWT. menerangkan, “Apabila kamu, wahai kaum Muslimin, menghadapi orang-orang kafir dalam peperangan, maka curahkanlah kesanggupan dan kemampuanmu untuk menghancurkan musuh-musuhmu, penggallah leher mereka di mana saja kamu temui dalam peperangan itu. Utamakanlah kemenangan yang akan dicapai pada setiap medan pertempuran dan janganlah kamu mengutamakan penawanan dan harta rampasan dari pada mengalahkan mereka. Penawanan dilakukan setelah kamu mengalahkan mereka, karena orang-orang kafir itu setiap saat berkeinginan membunuh dan menghancurkan kamu dan mereka tidak dapat dipercaya. Mereka seakan-akan ingin berdamai dengan kamu, tetapi hati dan keyakinan mereka tetap untuk menghancurkan kamu dan agama Islam pada setiap kesempatan yang mungkin mereka lakukan. Setelah selesai peperangan yang kamu menangkan itu, kamu boleh memilih salah satu dari dua hal, mana yang paling baik bagimu dan bagi agamamu, yaitu apakah kamu akan membebaskan tawanan yang telah kamu tawan atau kamu akan membebaskannya dengan membayar tebusan oleh pihak musuh atau dengan cara pertukaran tawanan.
Dalam ayat yang lain diterangkan batas, sampai di mana kaum Muslimin harus memerangi orang-orang kafir Mekah itu, yaitu sampai tidak ada lagi fitnah. Allah SWT. berfirman:

وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ لِلَّهِ فَإِنِ انْتَهَوْا فَلَا عُدْوَانَ إِلَّا عَلَى الظَّالِمِينَ (193)
Artinya:
Dan perangilah mereka itu sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi) kecuali terhadap orang-orang yang zalim. (Q.S. Al Baqarah: 193)
Berkata Ibnu Abbas r.a, “Tatkala jumlah kaum muslimin bertambah banyak dan kekuatannya semakin bertambah pula, Allah SWT. menurunkan ayat ini dan Rasulullah saw. bertindak sesuai dengan ayat ini, begitu pula para khalifah yang datang sesudahnya”.
Dari ayat di atas dan perkataan Ibnu Abbas r.a. dapat dipahami hal-hal sebagai berikut
1 Ayat ini diturunkan setelah perang Badar karena pada perang Badar itu Rasulullah saw. lebih mengutamakan tebusan, seperti menebus dengan harta atau dengan menyuruh tawanan itu mengajarkan tulis baca kepada kaum Muslimin.
2. Ayat ini merupakan pegangan bagi Rasulullah saw. dan pam sahabat dalam menyelesaikan persoalan yang berhubungan dengan peperangan dun tawanan perang.
3. Perintah membunuh orang-orang kafir dalam ayat ini dilakukan dalam peperangan, bukan di luar peperangan. Karena itu, wajarlah Allah SWT. memerintahkan kepada kaum Muslimin membunuh musuh-musuh mereka dalam peperangan yang sedang berkecamuk karena musuh sendiri bertindak demikian pula terhadap mereka. Jika Allah tidak memerintahkan demikian, tentulah kaum Muslimin ragu-ragu menghadapi musuh yang akan membunuh mereka sehingga musuh berkesempatan menghancurkan mereka.
4. Allah SWT. tidak memerintahkan kaum Muslimin membunuh orang-orang kafir di mana saja mereka temui, tetapi Allah hanya memerintahkan kaum Muslimin memerangi orang-orang kafir yang bermaksud merusak, memfitnah dan menghancurkan Islam dan kaum Muslimin, maka kaum Muslimin wajib pula bersikap memusuhi mereka. Terhadap orang kafir yang mempunyai sikap baik terhadap agama Islam dan kaum Muslim, maka kaum muslimin wajib pula bersikap baik terhadap mereka.
5. Kepala negara mempunyai peranan dalam mengambil keputusan dan kebijaksanaan dalam menyelesaikan peperangan dan tawanan perang. Ia harus mendasarkan keputusannya kepada kepentingan agama, kaum Muslimin dan kemanusiaan serta kemaslahatan pada umumnya.
Para ulama Syafi’iyah berpendapat bahwa kepala negara boleh mengambil salah satu dari empat keputusan. Kepala negara boleh membunuh tawanan jika tawanan itu tidak mau memeluk agama Islam atau boleh membebaskannya tanpa tebusan atau dengan tebusan atau dengan penukaran tawanan perang, atau boleh menjadikannya budak. Mereka mendasarkan pendapat ini pada perbuatan Rasulullah saw. yang membebaskan Abu Izzah Al Jumahi dan Sumamah bin Usal. Pernah pula Rasulullah saw. membebaskan dua orang tawanan musyrikin sebagai tukaran seorang muslim yang ditawan dan pernah pula Rasulullah saw. membunuh sebagian tawanan seperti Nadar bin Haris dan Utbah bin Abu Mu’it.
Memaksa tawanan masuk agama Islam tidak dibolehkan karena tindakan itu bertentangan dengan firman Allah SWT. yang melarang kaum Muslimin memaksa orang lain memeluk agama Islam.
Allah SWT. berfirman:

لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيَِّ
Artinya:
Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam), sesungguhnya telah jelas jalan yang benar dan jalan yang sesat (Q.S. Al Baqarah: 256)
Dalam hal Rasulullah saw. membunuh tawanan yang ditawan kaum Muslimin, tentu ada dasarnya, tentu saja tawanan yang dibunuh itu bukan tawanan biasa, melainkan tawanan yang merupakan penjahat perang yang telah banyak melakukan perbuatan-perbuatan mungkar, atau kematiannya diperlukan karena bila ia hidup, maka kejahatannya dalam peperangan akan berlangsung dalam waktu yang lama.
Menjadikan tawanan sebagai budak adalah tindakan yang biasa dilakukan oleh bangsa-bangsa di dunia sebelum kedatangan Islam. Setelah datang agama Islam, maka musuh-musuh Islam menjadikan kaum Muslimin yang mereka tawan menjadi budak. Pada dasarnya perbudakan itu dilarang oleh agama Islam, tetapi sebagai imbangan dari tindakan orang kafir dan untuk menjaga hati kaum Muslimin, maka Rasulullah saw. membolehkan kaum Muslimin menjadikan budak orang-orang kafir yang ditawannya. Hal ini juga berarti jika orang-orang kafir tidak menjab1ikan kaum Muslimin yang ditawannya menjadi budak, tentulah kaum Muslimin tidak pula boleh menjadikan orang-orang kafir yang ditawannya menjadi budak. Dalam pada itu, seandainya terjadi perbudakan karena tawanan perang itu, maka dalam agama Islam banyak ketentuan hukum yang berhubungan dengan hal memerdekakan budak.
Agama Islam adalah agama perdamaian, bukan agama yang menganjurkan peperangan. Karena itu, seandainya-dalam sejarah Islam terdapat peperangan antara kaum Muslimin dengan orang-orang kafir, maka peperangan itu adalah peperangan yang tidak dapat dihindarkan terjadinya. Peperangan itu terjadi karena mempertahankan agama Islam yang hendak dimusnahkan orang-orang kafir itu, di samping mempertahankan diri dari kehancuran. Sejak Muhammad diangkat menjadi Rasul, sejak itu pula timbul reaksi dari orang-orang musyrik Mekah kepada beliau dan pengikut-pengikutnya. Berbagai cam yang mereka lakukan untuk menumpas agama Islam dan kaum Muslimin, sejak dari cara yang lunak sampai kepada cara yang paling keras. Puncak dari tindakan orang musyrik Mekah itu ialah mengadakan komplotan untuk membunuh Rasulullah saw. sehingga Allah SWT. memerintahkan Rasulullah agar berhijrah ke Madinah. Setelah Rasulullah saw. berada di Madinah tindakan-tindakan itu semakin keras, sehingga kaum Muslimin terpaksa memerangi mereka untuk mempertahankan agama dan diri mereka.
Sesampai Rasulullah saw. di Madinah, diadakan perjanjian damai dengan orang-orang Yahudi, tetapi perjanjian damai itu dilanggar oleh mereka, bahkan mereka melakukan percobaan untuk membunuh Nabi Muhammad saw. Karena itu Rasulullah saw. terpaksa memerangi orang Yahudi di Madinah.
Amat banyak contoh-contoh yang dapat dikemukakan yang membuktikan bahwa agama Islam tidak disiarkan melalui peperangan tetapi melalui dakwah yang penuh hikmah dun kebijaksanaan.
Terhadap tawanan perang, sikap Rasulullah saw. baik sekali. Dalam hadis yang dlriwayatkan oleh Bukhari diterangkan sikap beliau itu. Abu Hurairah berkata, “Rasulullah saw. mengirimkan pasukan berkuda ke Nejed, maka pasukan berkuda itu menawan seorang laki-laki dari Bani Hanifah yang bernama Sumamah bin Usal Ia diikat pada salah satu tiang mesjid. Maka Rasulullah saw datang kepadanya, lalu berkata, “Apa yang engkau punyai ya Sumamah Sumamah menjawab, “Aku mempunyai harta, jika engkau mau membunuhku, lakukanlah dan jika engkau mau membebaskanku maka aku berterima kasih kepadamu, jika engkau menghendaki harta, maka mintalah berapa engkau mau.” Esok harinya Rasulullah saw. pun berkata kepadanya, “Apakah yang engkau punyai ya Sumamah?”. Ia menjawab: “Aku mempunyai apa yang telah kukatakan kepadamu” Berkata Rasulullah saw. “Lepaskanlah ikatan Sumamah.” Maka Sumamah pergi ke dekat pohon kurma yang berada di dekat mesjid, lalu mandi kemudian ia masuk ke mesjid. lalu menyatakan, “Aku mengakui bahwa tidak ada Tuhan yang selain Allah dan bahwa Muhammad itu adalah Rasul-Nya. Demi Allah, dahulu tidak ada orang yang paling aku benci di dunia ini selain engkau, sekarang jadilah engkau orang yang paling aku cintai, demi Allah, dahulu tidak ada agama yang paling aku benci selain agama engkau, maka jadilah sekarang agama engkau adalah agama yang paling aku cintai. Demi Allah, dahulu negeri yang paling aku benci adalah negerimu, maka jadilah negerimu itu negeri yang paling aku cintai. Sesungguhnya pasukan berku4a telah menangkapku, sedang aku bermaksud umrah, apa pendapatmu?”. Maka Rasulullah memberi kabar gembira kepadanya dan menyuruhnya melakukan umrah. Tatkala ia sampai di Mekah, seorang mengatakan kepadanya: “Engkau merasa rindu?” Sumamah menjawab “Tidak, tetapi aku telah masuk Islam bersama Muhammad saw”.
Dari hadis ini dapat dipahami bahwa Rasulullah saw. bersikap lemah lembut kepada Sumamah, seorang tawanan perang. Beliau memberi kebebasan kepadanya, sehingga ia tertarik kepada Rasulullah dan agama Islam, karena itu dia menyatakan dirinya masuk Islam.
Seandainya Rasulullah bersikap kasar kepadanya, tentulah dia tidak akan menyatakan seperti tersebut di dalam hadis itu, Ia akin menyimpan dendam kepada Rasulullah saw. dan pada setiap kesempatan ia akan berusaha membalaskan dendamnya itu.
Agama Islam datang untuk menegakkan prinsip-prinsip pokok yang harus ada dalam hidup dan kehidupan manusia, baik ia sebagai makhluk individu maupun sebagai makhluk sosial. Prinsip-prinsip itu ialah ketauhidan, keadilan. kemanusiaan dan musyawarah sehingga dengan menegakkan prinsip-prinsip itu manusia akan berhasil dalam tugasnya sebagai khalifah Allah di muka bumi. Atas dasar semuanya itulah segala persoalan diselesaikan, termasuk persoalan-persoalan peperangan dan tawanan perang.
Di samping itu, manusia adalah makhluk Allah yang paling dimuliakan-Nya dibandingkan dengan makhluk-makhluk lainnya. Karena itu manusia harus pula memuliakan manusia yang lain apakah ia seorang muslim atau orang kafir. Tentu saja orang muslim adalah orang yang paling mulia di sisi Allah dan seorang muslim harus pula menyesuaikan dirinya dengan penilaian Allah itu. Allah SWT. berfirman:

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَى كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًا (70)
Artinya
Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam. Kami angkat mereka di daratan dan di lautan. Kami beri mereka rezeki dari yang baik baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan. (Q.S. Al Isra: 70)
Di samping itu Allah SWT. menganugerahkan kepada manusia akal pikiran untuk mengetahui, menyelidiki, memahami segala sesuatu dan mempertimbangkan apa yang paling baik bagi dirinya dan bagi orang lain. Demikian pula perasaan sebagai pelengkap bagi manusia dalam menilai segala sesuatu. Kemudian Allah SWT. mengutus Rasul-rasul-Nya untuk menyampaikan petunjuk kepada manusia untuk kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat nanti. Petunjuk itu harus disampaikan dengan hikmah dan kebijaksanaan dan dengan cara yang baik, tidak dengan paksaan dan peperangan. Karena manusia telah mempunyai akal dan perasaan, maka ia dapat memilih apakah ia akan mengikuti petunjuk itu atau tidak, terserah kepada mereka sendiri. Jika mereka mengikuti petunjuk Allah yang disampaikan oleh Rasul-Nya; berarti mereka telah menentukan pilihan yang paling baik. Jika mereka tidak menerimanya, mereka tetap dihormati sebagai manusia, selama mereka tidak mempunyai maksud untuk menghalangi orang lain mengikuti petunjuk Allah. Jika mereka menghalangi orang lain mengikuti petunjuk Allah, apalagi bermaksud menghancurkan Islam dan kaum Muslimin, maka Allah memerintahkan untuk memerangi mereka sampai tidak ada fitnah lagi.
Dari keterangan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa perintah-perintah untuk melaksanakan perang dalam Alquran, bukanlah maksudnya untuk memaksa orang lain memeluk agama Islam, melainkan untuk mempertahankan agama dan dari maksud-maksud buruk orang-orang kafir itu. Peperangan tidak akan ada selama maksud-maksud buruk itu juga tidak ada.
Mengenai orang musyrikin Arab, terutama penduduk Mekah, Agama Islam membedakannya dengan orang musyrik yang lain. Orang musyrik Mekah sejak agama Islam lahir telah bertindak di luar batas dan menganiaya orang-orang beriman sehingga Rasulullah saw. diperintahkan Allah hijrah ke Madinah. Setelah Rasulullah dan para sahabat sampai di Madinah, orang-orang musyrik itu masih tetap berusaha melaksanakan niat jahatnya, itu pun akan tetap dilaksanakannya pada setiap kesempatan dan keadaan yang memungkinkan. Karena itu, bagi mereka berlaku ketentuan Diperangi atau masuk Islam. Kaum musyrik Mekah inilah yang dimaksud dengan “manusia” dalam hadis Rasulullah yang bunyinya sebagai berikut, “Aku diperintahkan memerangi manusia sehingga ia mengucapkan “laa ilaaha illallah.” Artinya ialah “Aku diperintahkan memerangi orang musyrik Mekah sampai ia mengucapkan Kalimat Syahadat.
Sekalipun demikian, dalam kenyataannya Rasulullah saw. tidak pernah memaksa orang-orang musyrik Arab memeluk agama Islam. Pada penaklukan Mekah, Rasulullah melindungi mereka dengan memerintahkan agar mereka berlindung di rumah Abu Sofyan. Setelah penaklukan selesai, Rasulullah saw tidak menawan mereka tetapi membiarkan mereka bebas sebagaimana biasa. Kemudian mereka masuk Islam dengan penuh kesadaran tanpa ada paksaan.
Itulah yang diperintahkan Allah kepada orang-orang yang beriman, yaitu membunuh setiap orang kafir yang dijumpai dalam peperangan, atau menawan mereka dan membebaskan mereka tanpa tebusan atau dengan tebusan sampai perang selesai. Itulah sunah Allah yang berlaku bagi hamba-hamba-Nya untuk menjaga agama-Nya, menegakkan keadilan dan mencari kemaslahatan.
Allah SWT. menyatakan bahwa sunah-Nya itu ditetapkan untuk menguji manusia dan sebagai cobaan bagi orang-orang yang beriman. Sebenarnya jika Dia menghendaki, tidaklah sukar bagi-Nya untuk menghancurkan orang-orang musyrik itu dengan menimpakan malapetaka kepadanya atau Dia menjadikan seluruh manusia menjadi orang yang beriman dan bertakwa kepada-Nya. Tetapi Allah ingin membedakan siapa yang benar-benar beriman dan berjihad, siapa yang setengah-setengah imannya dan siapa pula yang kafir dan berbuat maksiat. Dengan demikian, maka Allah SWT. menetapkan balasan amal dan perbuatannya berdasarkan apa yang telah mereka kerjakan, baik balasan itu berupa pahala maupun berupa siksaan yang sangat pedih.
Pada akhir ayat ini Allah SWT. menerangkan balasan apa yang akan diterima oleh orang-orang. yang beriman dan berjihad di jalan Allah dengan mengatakan: “Bagi orang-orang yang berjihad di jalan Allah untuk membela agama Islam. sekali-kali Allah tidak akin mengurangi pahala mereka sedikit pun, bahkan Dia akan mengganjarnya dengan pahala yang berlipat ganda. Mengenai pahala berjihad di jalan Allah disebutkan dalam suatu hadis sebagai berikut

يعطى الشهيد ست خصال عند أول قطرة من دمه تكفر عنه كل خطيئة ويري مقعده من الجنة ويزوج من الحور العين ويأمن من الفزع الأكبر ومن عذاب القبر ويحلى حلة الإيمان
Artinya
Allah menganugerahkan kepada orang-6rang yang mati syahid enam perkara: pada waktu keluar tetesan darahnya yang pertama, Allah mengampuni segala kesalahannya, diperlihatkan kepadanya tempatnya di surga, dikawinkan dengan bidadari yang cantik rupawan, tidak mengalami ketakutan pada guncangan Hari Kiamat, terpelihara dari azab kubur dan diletakkan padanya pakaian iman. (H.R. Ahmad)
Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari Ibnu Hatim dari Qaatadah, ia berkata, “Disampaikan kepada kami bahwa ayat ini turun pada perang Uhud dan Rasulullah saw. berada di sela-sela bukit berlindung. Waktu itu di antara kaum Muslimin banyak yang luka dan terbunuh dalam peperangan itu. Orang musyrikin menyerukan dengan suara keras, “Maha tinggi hubal” (nama patung mereka yang paling besar). Dan kaum Muslimin menyerukan, “Maha Tinggi Allah lagi Maha Mulia”, berkata orang musyrikin, “Hari kekalahan kami pada perang Badar telah kami tebus dengan kemenangan kami hari ini. Perang itu silih berganti antara menang dan kalah.” Maka berkatalah Rasulullah saw, “Katakanlah kepada mereka, tidak sama kamu dengan kami, kami terbunuh berarti hidup di sisi Allah dan diberi karunia, sedang kamu terbunuh akan diazab di dalam neraka. Berkata lagi orang-orang musyrikin, “Kami mempunyai tuhan uzza sedang kamu tidak mempunyainya.” Berkata kaum Muslimin, “Allah pelindung kami, sedang kamu tidak mempunyai pelindung”


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.