Posts Tagged ‘(QS. 2:256) Surah Al Baqarah 256’

(QS. 9:66) Surah At Taubah 66,QS. 5:54) Surah Al Maa-idah 54,.(QS. 2:256) Surah Al Baqarah 256,.(QS. 17:1) Surah Al Israa’ 1,AL-’ALAQ Surah ke 96

December 22, 2008

66 Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami memaafkan segolongan daripada kamu (lantaran mereka taubat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa.(QS. 9:66)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah At Taubah 66
لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ إِنْ نَعْفُ عَنْ طَائِفَةٍ مِنْكُمْ نُعَذِّبْ طَائِفَةً بِأَنَّهُمْ كَانُوا مُجْرِمِينَ (66)
Pada Ayat ini Allah menerangkan bahwa tak ada gunanya mereka meminta maaf dengan mengemukakan dalih seperti tersebut pada ayat 65 karena sesungguhnya orang-orang munafik itu telah kembali menjadi kafir sesudah beriman, mereka mengejek Nabi dan memandang rendah kepada beliau. Sikap demikian itu terhadap Rasul menunjukkan kekosongan jiwa mereka dari keimanan. Mereka telah melakukan dosa yang sangat besar karena dengan sengaja menghina Nabi dan mengingkari Allah. Jika sekiranya segolongan orang-orang munafik benar-benar melakukan tobat atas dorongan iman yang sesungguhnya, seperti seseorang yang bernama Mikhasy bin Humair, tentulah Allah menerima tobatnya dan Allah tetap mengazab orang-orang munafik yang masih terus-menerus bergelimang dalam dosa kemunafikan.

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah At Taubah 66
لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ إِنْ نَعْفُ عَنْ طَائِفَةٍ مِنْكُمْ نُعَذِّبْ طَائِفَةً بِأَنَّهُمْ كَانُوا مُجْرِمِينَ (66)
(Tidak usah kalian meminta maaf) akan hal tersebut (karena kalian kafir sesudah beriman) artinya kekafiran kalian ini tampak sesudah kalian menampakkan keimanan. (Jika Kami memaafkan) bila dibaca memakai ya berarti menjadi mabni maf’ul sehingga bacaannya menjadi ya’fa. Jika dibaca memakai huruf nun, berarti mabni fa’il, dan bacaannya seperti yang tertera pada ayat (segolongan daripada kalian) lantaran keikhlasan dan tobatnya, seperti apa yang dilakukan oleh Jahsy bin Humair (niscaya Kami akan mengazab) dapat dibaca tu`adzdzib dan dapat pula dibaca nu`adzdzib (golongan yang lain disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa) yakni, karena mereka selalu menetapi kemunafikannya dan selalu melancarkan ejekan-ejekan.

=========================================

54 Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.(QS. 5:54)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Maa-idah 54
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ (54)
Dalam ayat itu terkandung berita tantangan yang akan terjadi, yaitu akan murtadnya nanti sebahagian orang mukmin. Mereka akan keluar dari Islam dengan terang-terangan. Keluarnya mereka dari Islam tidaklah akan membahayakan orang mukmin, tetapi sebaliknyalah yang akan terjadi, yaitu Allah akan menggantinya dengan orang-orang yang lebih kuat imannya dan lebih baik amal perbuatannya sebagai pengganti mereka yang murtad itu.
Menurut riwayat Ibnu Jarir dari Qatadah, dia menceritakan bahwa setelah Allah menurunkan ayat ini, diketahuilah bahwa akan terjadi beberapa kelompok manusia akan murtad, yaitu keluar dari agama Islam. Peristiwa itu kemudian benar-benar terjadi, ketika Nabi Muhammad saw. berpulang ke rahmatullah, maka pada waktu itu murtadlah sebagian orang dari Islam, terkecuali dari tiga tempat, yaitu penduduk Madinah, penduduk Mekah dan penduduk Bahrain. Di antara tanda-tanda murtad mereka ialah bahwa mereka tidak mau lagi mengeluarkan zakat. Mereka mengatakan, “Kami akan tetap bersalat, tetapi kami tidak mau mengeluarkan zakat. Demi Allah, tidak boleh dirampas harta kami.” Maka khalifah Abu Bakar ketika itu terpaksa mengambil tindakan keras. Orang-orang yang murtad itu diperangi, sehingga di antara mereka ada yang mati, ada yang terbakar dan ada pula yang ditangkap, sehingga akhirnya mereka kembali bersedia membayar zakat.
Peristiwa terjadinya orang-orang murtad ini sudah banyak sekali. Di dalam sejarah disebutkan bahwa pada masa Nabi Muhammad saw. masih hidup telah terjadi tiga kali peristiwa orang-orang murtad, yaitu:
1. Golongan Bani Mudhij yang dipelopori oleh Zulkhimar, yaitu Al-Aswad Al-Ansy seorang tukang tenung. Dia mengaku sebagai nabi di negeri Yaman, akhirnya dia dihancurkan Allah, dibunuh oleh Fairuz Ad-Dailami.
2. Golongan Bani Hanifah, yaitu kaum Musailamah Al-Kazzab. Musailamah mengaku dirinya sebagai nabi. Pernah dia berkirim surat kepada Nabi Muhammad saw. mengajak beliau untuk membagi dua kekuasaan di negeri Arab. Dia memerintah separoh negeri dan Nabi Muhammad saw. memerintah yang separoh lagi. Nabi Muhammad saw. membalas suratnya itu dengan mengatakan bahwa bumi ini adalah kepunyaan Allah dan Allah akan mempusakakan bumi ini kepada siapa yang dikehendaki di antara hamba-Nya dan bahwa kemenangan terakhir akan berada pada orang yang bertakwa kepada-Nya. Akhirnya Musailamah diperangi oleh Khalifah Abu Bakar dan ia mati dibunuh oleh Wahsyi yang dulu pernah membunuh Hamzah, paman Nabi pada perang Uhud.
3. Golongan Bani Asad, pemimpinnya bernama Tulaihah bin Khuwailid, dia juga mengaku dirinya menjadi nabi, maka Aba Bakar memerangi dengan memberitahukan Khalid bin Walid untuk membunuhnya. Dia mundur dan lari ke negeri Syam dan akhirnya dia kembali menjadi seorang muslim yang baik.
Sesudah Nabi Muhammad saw. meninggal, yaitu pada masa Khalifah Abu Bakar, banyak benar terjadi golongan-golongan yang murtad terdiri dari 7 golongan, yaitu:
1. Ghathafan
2. Bani Khuza`ah
3. Bani Salim
4. Bani Yarbu’
5. Sebagian Bani Tamim
6. Kindah
7. Bani Bakr
Orang-orang yang menggantikan orang-orang murtad itu, selalu mengatakan kebenaran dan membantu perjuangan Islam, ditandai oleh Allah dengan enam sifat yang penting, yaitu:
1. Allah mencintai mereka karena keimanan dan keyakinan mereka dalam berjuang.
2. Mereka cinta kepada Allah karena perintah Allah lebih diutamakan dari urusan-urusan yang lain.
3. Mereka bersikap lemah-lembut terhadap orang mukmin.
4. Terhadap orang kafir mereka bersikap keras dan tegas.
5. Berjihad fisabilillah, yaitu bersungguh-sungguh dalam menegakkan agama Allah, mau berkorban dengan harta dan dirinya dan tidak takut berperang menghadapi musuh agama.
6. Mereka tidak takut terhadap cacian dan celaan, tidak takut kepada gertakan dan ancaman. Sebab mereka senantiasa dalam beramal, berjuang, buka mencari pujian dan sanjungan manusia, bukan juga mencari pangkat dan kedudukan dan bukan pula mencari nama dan tuah. Yang mereka cari hanyalah keridaan Allah semata.
Sifat-sifat yang tersebut itu adalah karunia Allah kepada hamba-Nya yang diberikan kepada siapa yang dikehendaki. Dengan sifat-sifat itulah derajat seseorang menjadi tinggi dan mulia di hadapan manusia, dan lebih-lebih di hadapan Allah yang mempunyai karunia yang besar. Semuanya itu akan dapat diperoleh dengan jalan mendekatkan diri kepada-Nya serta memperbanyak ibadah dan bersyukur.

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al Maa-idah 54
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ (54)
(Hai orang-orang yang beriman! Siapa yang murtad) yartadda pakai idgam atau tidak; artinya murtad atau berbalik (di antara kamu dari agamanya) artinya berbalik kafir; ini merupakan pemberitahuan dari Allah swt. tentang berita gaib yang akan terjadi yang telah terlebih dahulu diketahui-Nya. Buktinya setelah Nabi Muhammad saw. wafat segolongan umat keluar dari agama Islam (maka Allah akan mendatangkan) sebagai ganti mereka (suatu kaum yang dicintai oleh Allah dan mereka pun mencintai-Nya) sabda Nabi saw., “Mereka itu ialah kaum orang ini,” sambil menunjuk kepada Abu Musa Al-Asyari; riwayat Hakim dalam sahihnya (bersikap lemah lembut terhadap orang-orang mukmin dan bersikap keras) atau tegas (terhadap orang-orang kafir. Mereka berjihad di jalan Allah dan tidak takut akan celaan orang yang suka mencela) dalam hal itu sebagaimana takutnya orang-orang munafik akan celaan orang-orang kafir. (Demikian itu) yakni sifat-sifat yang disebutkan tadi (adalah karunia Allah yang diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan Allah Maha Luas) karunia-Nya (lagi Maha Mengetahui) akan yang patut menerimanya. Ayat ini turun ketika Ibnu Salam mengadu kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah! Kaum kami telah mengucilkan kami!”…………………..di ayat ini tidak ada perintah untuk membunuh orang murtad …………

==============================================

…………Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang salah. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.(QS. 2:256)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Baqarah 256
لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لَا انْفِصَامَ لَهَا وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ (256)
Ada suatu riwayat tentang sebab turunnya ayat ini, seorang lelaki bernama Abu Al-Husain dari keluarga Bani Salim Ibnu Auf mempunyai dua orang anak lelaki yang telah memeluk agama Nasrani sebelum Nabi Muhammad saw. diutus Tuhan sebagai nabi. Kemudian kedua anak itu datang ke Madinah (setelah datangnya agama Islam), maka ayah mereka selalu meminta agar mereka masuk agama Islam dan ia berkata kepada mereka, “Saya tidak akan membiarkan kamu berdua, hingga kamu masuk Islam.” Mereka lalu mengadukan perkaranva itu kepada Rasulullah saw. dan ayah mereka berkata, “Apakah sebagian dari tubuhku akan masuk neraka?” Maka turunlah ayat ini, lalu ayah mereka membiarkan mereka itu tetap dalam agama semula.
Jadi, tidak dibenarkan adanya paksaan. Kewajiban kita hanyalah menyampaikan agama Allah kepada manusia dengan cara yang baik dan penuh kebijaksanaan serta dengan nasihat-nasihat yang wajar sehingga mereka masuk agama Islam dengan kesadaran dan kemauan mereka sendiri.
Apabila kita sudah menyampaikan kepada mereka dengan cara yang demikian tetapi mereka tidak juga mau beriman itu bukanlah urusan kita melainkan urusan Allah swt. Kita tidak boleh memaksa mereka. Dalam ayat yang lain Allah swt. telah berfirman yang artinya, “Apakah Engkau ingin memaksa mereka hingga mereka itu menjadi orang-orang yang beriman?”
Dengan datangnya agama Islam, maka jalan yang benar sudah tampak dengan jelas dan dapat dibedakan dari jalan yang sesat. Maka tidaklah boleh adanya pemaksaan untuk beriman karena iman tersebut adalah keyakinan dalam hati sanubari dan tak seorang pun dapat memaksa hati seorang untuk meyakini sesuatu apabila ia sendiri tidak bersedia.
Ayat-ayat Alquran yang menerangkan kenabian Muhammad saw. sudah cukup jelas. Maka terserahlah kepada setiap orang apakah ia akan beriman atau kafir setelah kita menyampaikan ayat-ayat itu kepada mereka. Inilah etika dakwah Islam. Adapun suara-suara yang mengatakan bahwa agama Islam dikembangkan dengan pedang itu hanyalah omong kosong dan fitnahan belaka. Umat Islam di Mekah sebelum berhijrah ke Madinah hanya melakukan salat dengan cara sembunyi dan mereka tidak mau melakukan secara demonstratif terhadap kaum kafir. Ayat ini turun kira-kira pada tahun ketiga sesudah hijrah, yaitu setelah umat Islam memiliki kekuatan yang nyata dan jumlah mereka telah bertambah banyak namun mereka tidak diperbolehkan melakukan paksaan terhadap orang-orang yang bukan muslim, baik paksaan secara halus apalagi dengan kekerasan.
Adapun peperangan yang telah dilakukan umat Islam, baik di Jazirah Arab maupun di negeri-negeri lain seperti di Mesir, Persia dan sebagainya, itu hanyalah semata-mata suatu tindakan bela diri terhadap serangan-serangan kaum kafir kepada mereka, dan untuk mengamankan jalannya dakwah Islam. Sehingga orang-orang kafir itu dapat dihentikan dari kezaliman, memfitnah dan mengganggu umat Islam karena menganut dan melaksanakan agama mereka dan agar kaum kafir itu dapat menghargai kemerdekaan pribadi dan hak-hak asasi manusia dalam menganut keyakinan.
Di daerah-daerah yang telah dikuasai kaum muslimin, orang-orang yang belum menganut agama Islam diberi hak dan kemerdekaan untuk memilih apakah mereka akan memeluk agama Islam ataukah akan tetap dalam agama mereka. Jika mereka memilih untuk tetap dalam agama semula, maka mereka diharuskan membayar “jizyah”, yaitu semacam pajak sebagai imbangan dari perlindungan yang diberikan pemerintah Islam kepada mereka. Dan keselamatan mereka di jamin sepenuhnya asal mereka tidak melakukan tindakan-tindakan yang memusuhi Islam dan umatnya.
Ini juga merupakan suatu bukti yang jelas bahwa umat Islam tidak melakukan paksaan, bahkan tetap menghormati kemerdekaan beragama, walaupun terhadap golongan minoritas yang berada di daerah-daerah kekuasaan mereka. Sebaliknya dapat kita lihat dari bukti-bukti sejarah, baik pada masa dahulu, maupun pada zaman modern sekarang ini, betapa malangnya nasib umat Islam apabila mereka menjadi golongan minoritas pada suatu negara.
Ayat ini selanjutnya menerangkan, bahwa siapa-siapa yang sudah tidak lagi percaya kepada tagut, atau tidak lagi menyembah patung, atau benda yang lain, melainkan beriman dan menyembah Allah semata-mata, maka ia telah mendapatkan pegangan yang kokoh, laksana tali yang kuat yang tak akan putus. Dan iman yang sebenarnya adalah iman yang diyakini dalam hati, diucapkan dengan lidah dan diiringi dengan perbuatan. Itulah sebabnya, maka pada akhir ayat, Allah berfirman yang artinya, “Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” Artinya Allah senantiasa mendengar apa yang diucapkan dan Dia lalu mengetahui apa yang diyakini dalam hati, dan apa yang diperbuat oleh anggota badan. Dan Allah akan membalas amal seseorang sesuai dengan iman, perkataan dan perbuatan mereka masing-masing.

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al Baqarah 256
لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لَا انْفِصَامَ لَهَا وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ (256)
(Tidak ada paksaan dalam agama), maksudnya untuk memasukinya. (Sesungguhnya telah nyata jalan yang benar dari jalan yang salah), artinya telah jelas dengan adanya bukti-bukti dan keterangan-keterangan yang kuat bahwa keimanan itu berarti kebenaran dan kekafiran itu adalah kesesatan. Ayat ini turun mengenai seorang Ansar yang mempunyai anak-anak yang hendak dipaksakan masuk Islam. (Maka barang siapa yang ingkar kepada tagut), maksudnya setan atau berhala, dipakai untuk tunggal dan jamak (dan dia beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada simpul tali yang teguh kuat) ikatan tali yang kokoh (yang tidak akan putus-putus dan Allah Maha Mendengar) akan segala ucapan (Maha Mengetahui) segala perbuatan.

[TAFSIR] : AL-ISRAA’ surah ke 17 Ayat 1

1 Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.(QS. 17:1)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Israa’ 1
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ (1)
Allah SWT menyatakan ke Maha Sucian Asma Nya dengan firman Nya “Subhana”, agar manusia mengakui kesucian-Nya dari sifat-sifat yang tidak layak dan meyakini sifat-sifat ke Agungan Nya yang tiada taranya dan sebagai pernyataan pula tentang sifat-sifat yang kebesaran Nya telah memperjalankan hamba-Nya pada waktu malam, dengan perjalanan yang sangat cepat.
Allah SWT memulai firman Nya dengan “Subhana” dalam ayat ini, dan di Beberapa ayat yang lain sebagai pertanda bahwa ayat itu mengandung peristiwa luar biasa yang hanya dapat terlaksana karena iradat dan kekuasaan Nya.
Dari kata-kata Isra’ dapat dipahami bahwa Isra’ Nabi Muhammad saw itu terjadi di waktu malam hari, karena memang demikian kata “asra” dalam bahasa Arab. Sedang disebutkan “Lailan”, yang berarti di malam hari,” adalah untuk menguatkan pengertian bahwa peristiwa Isra’ itu memang benar-benar terjadi di malam hari. Allah SWT mengisra’ kan hamba Nya di waktu malam hari, karena waktu itulah yang paling utama bagi para hamba untuk mendekatkan diri kepada Allah, dan waktu yang sebaik-baiknya untuk beribadat kepada-Nya.
Dimaksud dengan “hamba Nya” di dalam ayat ini ialah Nabi Muhammad saw yang telah terpilih sebagai Nabi yang terakhir dan telah mendapat perintah untuk melakukan perjalanan malam, yang semata-mata karena perintah Allah.
Di dalam ayat ini tidak diterangkan waktunya secara pasti, baik waktu keberangkatannya maupun saat tibanya Nabi Muhammad saw kembali ke tempat tinggalnya di Mekah. Hanya saja yang diterangkan bahwa Isra’ Nabi Muhammad saw dimulai dari Masjidilharam, yaitu Mesjid yang terkenal karena di dalamnya ada Baitullah yang terletak di kota Mekah menuju Masjidilaksa yang berada di Baitulmakdis. Masjidilaksa itu terkenal pula dengan Haikal Sulaiman. Disebut demikian karena Nabi Sulaimanlah yang membinanya. Mesjid itu disebut Masjidilaksa yang berarti “jauh”, karena jauhnya dari kota Mekah.
Selanjutnya Allah SWT, menjelaskan bahwa Masjidilaksa itu dan daerah daerah sekitarnya diberi berkat oleh Allah, karena tempat di sekitarnya itu adalah tempat turunnya wahyu kepada Nabi-nabi dan disuburkan tanahnya, sehingga menjadi daerah yang makmur. Di samping itu juga karena mesjid itu termasuk di antara mesjid-mesjid yang paling besar pada waktu itu yang menjadi tempat peribadatan para Nabi dan tempat tinggal mereka.
Sesudah itu Allah menyebutkan alasan mengapa Nabi Muhammad saw dibawa berjalan pada malam hari, yaitu Allah SWT dapat memperlihatkan kepadanya tanda-tanda kebesaran-Nya, yaitu tanda-tanda yang dapat disaksikan oleh Muhammad saw dalam perjalanannya itu, berupa pengalaman-pengalaman yang berharga yang dialaminya dalam perjalanan dari Masjidilharam ke Masjidilaksa itu, ketabahan hati dalam menghadapi berbagai macam cobaan, dan betapa luasnya jagat raya serta alangkah Agungnya Maha Pencipta Nya. Pengalaman-pengalaman baru yang dapat disaksikan oleh Nabi Muhammad itu sangat berguna untuk menguatkan hati beliau dalam melakukan tugasnya, dan menambah ketabahan beliau menghadapi berbagai macam rintangan dari kaumnya, juga persiapan yang sangat penting dalam meyakini wahyu Allah, baik yang telah diterima maupun yang akan diterimanya.
Di akhir ayat ini Allah SWT menjelaskan bahwa Dia Maha Mendengar terhadap bisikan batin para hamba-Nya dan Maha Melihat akan semua perbuatan mereka. Tak ada suatupun detak jantung, ataupun gerakan badan dari seluruh yang ada di antara langit dan bumi ini yang terlepas dari pengamatan Nya.
Ayat ini menyebutkan terjadinya peristiwa Isra’, yaitu perjalanan Nabi Muhammad saw dari Masjidilharam ke Masjidilaksa di waktu malam, sedang peristiwa Mikraj, yaitu naiknya Nabi Muhammad dari Masjidilaksa ke Sidratul Muntaha (Mustawa) tidak diisyaratkan oleh ayat ini tetapi diisyaratkan oleh bagian pertama surah An Najm.
Hampir seluruh ahli tafsir berpendapat bahwa peristiwa Isra’ itu terjadi setelah Nabi Muhammad diutus menjadi Rasul. Peristiwanya satu tahun sebelum hijrah. Demikian menurut Imam Az Zuhri Ibnu Saad dan lain-lainnya. Imam Nawawipun memastikan yang demikian. Bahkan menurut Ibnu Hasan bahwa peristiwa Isra’ itu terjadi bulan Rajab tahun yang kedua belas dari diangkatnya Muhammad menjadi Nabi.
Adapun hadis-hadis yang menjelaskan terjadinya Isra’ itu sebagai berikut:
Pertama :

ليلة أسري برسول الله صلى الله عليه وسلم من مسجد الكعبة أنه جاءه ثلاثة نفر قبل أن يوحى إليه وهو نائم في المسجد الحرام فقال أولهم: أيهم هو؟ فقال أوسطهم : هو خيرهم فقال أخرهم : خذوا خيرهم، فكانت تلك الليلة فلم يرهم حتى أتوه ليلة أخرى فيما يرى قلبه وتنام عينه ولا ينام قلبه وكذلك الأنبياء تنام أعينهم ولا تنام قلبهم -فلم يكلموه حتى احتملوه فوضعوه عند بئر زمزم فتولاه منهم جبريل فشق جبريل ما بين نحره إلى لبته حتى فرغ من صدره وجوفه فغسله من ماء زمزم بيده حتى أنقى جوفه ثم أتى بطشت من ذهب فيه نور من ذهب محشو إيمانا وحطمة فحشابه صدره ولغاديده يعني عروق حلقه
Artinya:
Pada malam dijalankannya Rasulullah saw dari Masjidilharam datanglah kepadanya tiga orang pada saat sebelum turunnya wahyu, sedangkan Rasul pada waktu itu sedang tidur di Masjidilharam. Kemudian berkatalah orang yang pertama: “Siapakah dia ini ? Kemudian orang kedua menjawab: “Dia adalah orang yang terbaik di antara mereka (kaumnya). Setelah itu berkatalah orang ketiga : “Ambillah orang yang terbaik itu. Pada malam itu Nabi tidak mengetahui siapa mereka itu, sehingga mereka datang kepada Nabi di malam yang lain dalam keadaan matanya tidur sedangkan hatinya tidak tidur. Demikianlah para Nabi, meskipun mata mereka terpejam, namun hati mereka tidaklah tidur. Sesudah itu rombongan tadi tidaklah berbicara sedikitpun kepada Nabi sehingga saatnya mereka membawa Nabi dan meletakkannya di sekitar sumur Zam-zam. Kemudian Jibrilah di antara mereka yang menguasai diri Nabi, lalu Jibril membelah bagian tubuh, antara leher sampai ke hatinya, sehingga kosonglah dadanya. Sesudah itu Jibril mencuci hati Nabi dengan air Zamzam dengan menggunakan tangannya, sehingga bersihlah hati beliau. Kemudian Jibril membawa talam yang terdapat di dalamnya bejana dari emas yang berisi iman dan hikmah. Kemudian dituangkanlah isi bejana itu memenuhi dada beliau dan urat-urat tenggorokannya”. (H.R. Bukhari dan Anas)
Kedua: Hadis riwayat Bukhari dari Sa’sa’ah:

إذا أتاني أت فقد فاستخرج قلبي، ثم أتيت بطشت من ذهب مملوءة إيمانا، فغسل قلبي ثم حشي (أعيد)
Artinya:
Bahwa Nabi saw bersabda : “Datang kepadaku seseorang (Jibril). Kemudian ia mengeluarkan hatiku. Setelah itu dibawalah kepadaku piala yang terbuat dari emas yang penuh dengan iman, lalu ia mencuci hatiku. Setelah itu menuangkan isi piala itu kepadaku. Kemudian hatiku dikembalikannya seperti sediakala.” (H.R. Bukhari dari Sa’sa’ah).
Ketiga: Hadis riwayat Ahmad dari Anas bin Malik:

إن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: أتيت بالبراق وهو دابة أبيض فوق الحمار ودون البغال يضع حافره عند منتهى طرفه فركبته فسار بي حتى أتيت بيت المقدس فربطت الدابة بالحلقة التي يربط فيها الأنبياء ثم دخلت فصليت فيه ركعتين ثم خرجت فأتاني جبريل بإناء من خمر وإناء من لبن فاخترت اللبن فقال جبريل أصبت الفطرة
Artinya:
“Bahwa Rasulullah saw bersabda : “Didatangkan kepadaku Buraq, yaitu binatang putih lebih besar dari keledai yang lebih kecil dari bagal. Ia melangkahkan kakinya sejauh pandangan mata. Kemudian saya mengendarainya, lalu ia membawaku sehingga sampai di Baitulmakdis. Kemudian saya mengikatnya pada tempat para nabi mengikatkan kendaraannya. Kemudian saya salat dua rakaat di dalamnya, lalu saya keluar. Kemudian Jibril membawa kepadaku sebuah piala yang berisi minuman keras (khamar) dan sebuah lagi berisi susu; lalu saya pilih yang berisi susu, lantas Jibril berkata : “Engkau telah memilih fitrah sebagai pilihan yang benar”. (H.R. Ahmad dari Anas bin Malik).
Dari keterangan hadis-hadis tersebut, dapatlah disimpulkan bahwa Nabi Muhammad saw dijalankan di waktu malam hari dari Masjidilharam ke Masjidilaksa atas izin Allah di bawah bimbingan malaikat Jibril!. Sebelum Nabi Muhammad saw diperjalankan malam hari itu, hatinya diisi iman dan hikmah, agar beliau tahan menghadapi segala macam cobaan dan tabah dalam melaksanakan perintah-perintah-Nya. Perjalanan itu dilakukan dengan Buraq yang mempunyai kecepatan luar biasa sehingga Isra’ dan Mikraj hanya memerlukan waktu kurang dari satu malam, dari sesudah waktu `Isyak sampai sebelum subuh.
Adapun mengenai riwayat terjadinya Mikraj akan dijelaskan pada tafsir permulaan An Najm.
Di dalam ayat yang sedang ditafsirkan ini tidak dijelaskan secara terperinci; apakah Nabi saw Isra’ dengan ruh dan jasadnya, ataukah rohnya saja. Itulah sebabnya para mufassirin berbeda-beda pendapat mengenai hal tersebut. Sebagian besar mufassirin berpendapat bahwa Isra’ itu dilakukan dengan ruh dan jasad beliau dalam keadaan sadar, bukan dalam keadaan tidur. Mereka itu mengajukan beberapa alasan untuk menguatkan pendapatnya di antaranya ialah:
a. Kata (سُبْحَانَ) menunjukkan adanya peristiwa yang hebat, seumpama Nabi itu di-Isra’kan dalam keadaan tidur, tidaklah sepatutnya diungkapkan dengan menggunakan ayat yang didahului dengan tasbih.
b. Andai kata Isra’ itu dilakukan dalam keadaan tidur, tentulah orang Quraisy tidak dengan serta merta mendustakannya. Juga banyaknya orang muslim yang murtad kembali, lantaran adanya berita itu, menunjukkan peristiwa Isra’ bukanlah peristiwa yang biasa. Lagi pula kata-kata Umu Hani’ yang melarang Nabi menceritakannya kepada siapapun agar mereka tidak mendustakannya. Juga menguatkan bahwa Isra’ itu dilakukan Nabi dengan ruh dan jasadnya. Dan peristiwa yang menyebabkan Abu Bakar diberi gelaran “As-Siddiq” karena dia membenarkan Nabi Isra’ dengan ruh dan jasadnya, sedangkan orang-orang lain berat menerimanya.
c. Bahwa firman Allah (بِعَبْدِهِ) menunjukkan suatu kesatuan bulat antara ruh dan jasad.
d. Perkataan Ibnu Abbas bahwa : Orang-orang Arab kerap kali pula menggunakan kata “ru’ya” dalam arti penglihatan mata, maka kata “ru’ya” yang tersebut dalam firman Allah:

وَمَا جَعَلْنَا الرُّؤْيَا الَّتِي أَرَيْنَاكَ إِلَّا فِتْنَةً لِلنَّاسِ
Artinya:
Dan Kami tidak menjadikan mimpi yang telah Kami perlihatkan Kepadamu, melainkan sebagai ujian bagi manusia. (Q.S. Al Isra’: 60)
e. Yang diperlihatkan kepada Nabi pada waktu Isra’ dan Mikrajnya adalah berarti penglihatan mata yang mungkin terjadi karena kecepatan yang serupa telah dibuktikan oleh manusia dengan teknologi modem.
Segolongan mufassirin yang lain berpendapat bahwa Isra’ dilakukan Nabi dengan rohnya saja. Mereka ini menguatkan pendapatnya dengan alasan-alasan.
a. Bahwa Muawiyah bin Abu Sofyan apabila ditanya tentang Isra’ Nabi Muhammad saw beliau menjawab :

كان رؤيا من الله صادقة…
Artinya:
Isra’ Nabi itu adalah mimpi yang benar yang datangnya dari Allah.
b. Bahwa keluarga Abu Bakar r.a. berkata :
ما فقد جسد رسول الله صلى الله عليه وسلم ولكن أسري بروحه
Artinya:
Aisyah pernah berkata : “Jasad Rasulullah saw (pada saat berisra’) tidaklah lenyap, akan tetapi rohnyalah yang diisra’kan”.
c. Bahwa Al Hasan berkata pada saat menafsirkan firman Allah “Bahwa yang dimaksud dengan ru’ya” dipakai khusus untuk orang tidur.
Al Maragi di dalam tafsirnya mengemukakan beberapa kecaman terhadap alasan yang dikemukakan oleh orang-orang yang berpendidikan bahwa Nabi melakukan Isra’ dengan rohnya saja, sbb:
1. Pendapat Muawiyah itu ada kelemahannya, yaitu pada waktu itu Muawiyah belum lagi masuk Islam, akan tetapi dia masih di dalam keadaan musyrik. Sebab itu, riwayatnya tidak boleh di terima.
2. Riwayat `Aisyah mendapat kecaman-kecaman dari para Muhaddisin karena pada saat itu `Aisyah masih kecil masih belum menjadi istri Rasulullah saw.

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al Israa’ 1
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ (1)
(Maha Suci) artinya memahasucikan (Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya) yaitu Nabi Muhammad saw. (pada suatu malam) lafal lailan dinashabkan karena menjadi zharaf. Arti lafal al-isra ialah melakukan perjalanan di malam hari; disebutkan untuk memberikan pengertian bahwa perjalanan yang dilakukan itu dalam waktu yang sedikit; oleh karenanya diungkapkan dalam bentuk nakirah untuk mengisyaratkan kepada pengertian itu (dari Masjidilharam ke Masjidilaksa) yakni Baitulmakdis; dinamakan Masjidilaksa mengingat tempatnya yang jauh dari Masjidilharam (yang telah Kami berkahi sekelilingnya) dengan banyaknya buah-buahan dan sungai-sungai (agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda Kami) yaitu sebagian daripada keajaiban-keajaiban kekuasaan Kami. (Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui) artinya yang mengetahui semua perkataan dan pekerjaan Nabi saw. Maka Dia melimpahkan nikmat-Nya kepadanya dengan memperjalankannya di suatu malam; di dalam perjalanan itu antara lain ia sempat berkumpul dengan para nabi; naik ke langit; melihat keajaiban-keajaiban alam malakut dan bermunajat langsung dengan Allah swt. Sehubungan dengan peristiwa ini Nabi saw. menceritakannya melalui sabdanya, “Aku diberi buraq; adalah seekor hewan yang berbulu putih; tingginya lebih dari keledai akan tetapi lebih pendek daripada bagal; bila ia terbang kaki depannya dapat mencapai batas pandangan matanva. Lalu aku menaikinya dan ia membawaku hingga sampai di Baitulmakdis. Kemudian aku tambatkan ia pada tempat penambatan yang biasa dipakai oleh para nabi. Selanjutnya aku memasuki Masjidilaksa dan melakukan salat dua rakaat di dalamnya. Setelah itu aku keluar dari Masjidilaksa datanglah kepadaku malaikat Jibril seraya membawa dua buah cawan; yang satu berisikan khamar sedangkan yang lain berisikan susu. Aku memilih cawan yang berisikan susu, lalu malaikat Jibril berkata, ‘Engkau telah memilih fitrah (yakni agama Islam).’ Nabi saw. melanjutkan kisahnya, kemudian malaikat Jibril membawaku naik ke langit dunia (langit pertama), lalu malaikat Jibril mengetuk pintu langit; ditanyakan lagi kepadanya, ‘Siapakah kamu?’ Malaikat Jibril menjawab, ‘Jibril.’ Ditanyakan lagi kepadanya, ‘Siapakah yang bersamamu itu?’ Malaikat Jibril menjawab, ‘Muhammad.’ Ditanyakan lagi kepadanya, ‘Apakah dia telah diutus untuk menemui-Nya?’ Malaikat Jibril menjawab, ‘Dia telah diutus untuk menemui-Nya.’ Kemudian pintu langit pertama dibukakan bagi kami; tiba-tiba di situ aku bertemu dengan Nabi Adam. Nabi Adam menyambut kedatanganku, dan ia mendoakan kebaikan untukku. Kemudian malaikat Jibril membawaku naik ke langit yang kedua, malaikat Jibril mengetuk pintu langit yang kedua. Lalu ditanyakan kepadanya, ‘Siapakah kamu?’ Malaikat Jibril menjawab, ‘Jibril.’ Ditanyakan lagi kepadanya, ‘Siapakah orang yang bersamamu itu?’ Malaikat Jibril menjawab, ‘Muhammad.’ Ditanyakan lagi kepadanya, ‘Apakah dia telah diutus untuk menghadap kepada-Nya?’ Malaikat Jibril menjawab, ‘Dia telah diutus untuk menemui-Nya.’ Maka pintu langit yang kedua dibukakan bagi kami; tiba-tiba aku bertemu dengan dua orang anak bibiku, yaitu Nabi Yahya dan Nabi Isa. Lalu keduanya menyambut kedatanganku, dan keduanya mendoakan kebaikan buatku. Kemudian malaikat Jibril membawaku naik ke langit yang ketiga, maka malaikat Jibril mengetuk pintu langit yang ketiga, lalu ditanyakan kepadanya, ‘Siapakah kamu?’ Malaikat Jibril menjawab, ‘Jibril.’ Ditanyakan lagi kepadanya, ‘Siapakah orang yang bersamamu itu?’ Malaikat Jibril menjawab, ‘Muhammad.’ Ditanyakan lagi kepadanya, ‘Apakah dia telah diutus untuk menemui-Nya?’ Malaikat Jibril menjawab, ‘Dia telah diutus untuk menemui-Nya.’ Maka dibukakanlah pintu langit ketiga bagi kami, tiba-tiba aku bertemu dengan Nabi Yusuf; dan ternyata ia telah dianugerahi separuh daripada semua keelokan. Nabi Yusuf menyambut kedatanganku, lalu ia mendoakan kebaikan bagiku. Kemudian malaikat Jibril membawaku naik ke langit yang keempat, maka malaikat Jibril mengetuk pintu langit. Lalu ditanyakan kepadanya, ‘Siapakah kamu?’ Malaikat Jibril menjawab. ‘Jibril.’ Ditanyakan lagi kepadanya, ‘Siapakah orang yang bersamamu itu?’ Malaikat Jibril menjawab, ‘Muhammad.’ Ditanyakan lagi kepadanya, ‘Apakah dia telah diutus untuk menemui-Nya?’ Malaikat Jibril menjawab, ‘Dia telah diutus untuk menemui-Nya.’ Maka pintu langit yang keempat dibukakan bagi kami; tiba-tiba aku bertemu dengan Nabi Idris, ia menyambut kedatanganku dan mendoakan kebaikan bagiku. Kemudian malaikat Jibril membawaku ke langit yang kelima, lalu malaikat Jibril mengetuk pintu langit yang kelima, maka ditanyakan kepadanya, ‘Siapakah kamu?’ Malaikat Jibril menjawab, ‘Jibril.’ Dan ditanyakan lagi kepadanya, ‘Siapakah orang yang bersamamu itu?’ Malaikat Jibril menjawab, ‘Muhammad.’ Ditanyakan lagi kepadanya, ‘Apakah dia telah diutus untuk menemui-Nya?’ Malaikat Jibril menjawab, ‘Dia telah diutus untuk menemui-Nya.’ Lalu dibukakanlah pintu langit yang kelima bagi kami; tiba-tiba aku bertemu dengan Nabi Harun, ia menyambut kedatanganku dan mendoakan kebaikan bagiku. Selanjutnya malaikat Jibril membawaku naik ke langit yang keenam, lalu ia mengetuk pintunva, ditanyakan kepadanya, ‘Siapakah kamu?’ Malaikat Jibril menjawab, ‘Jibril.’ Ditanyakan lagi kepadanya, ‘Siapakah orang yang bersamamu itu?’ Malaikat Jibril menjawab, ‘Muhammad.’ Ditanyakan lagi kepadanya, ‘Apakah dia telah diutus untuk menemui-Nya?’ Malaikat Jibril menjawab, ‘Dia telah diutus untuk menemui-Nya.’ Maka dibukakanlah pintu langit yang keenam buat kami, tiba-tiba aku bertemu dengan Nabi Musa, lalu Nabi Musa menyambut kedatanganku, dan ia mendoakan kebaikan bagiku. Kemudian malaikat Jibril membawaku naik ke langit yang ketujuh, lalu ia mengetuk pintunya. Ditanyakan kepadanya, ‘Siapakah kamu?’ Malaikat Jibril menjawab, ‘Jibril.’ Ditanyakan lagi kepadanya, ‘Siapakah orang yang bersamamu itu?’ Malaikat Jibril menjawab, ‘Muhammad.’ Ditanyakan lagi kepadanya, ‘Apakah dia telah diutus untuk menemui-Nya?’ Malaikat Jibril menjawab, ‘Dia telah diutus untuk menemui-Nya.’ Maka dibukakanlah pintu langit yang ketujuh bagi kami; tiba-tiba aku bertemu dengan Nabi Ibrahim. Kedapatan ia bersandar pada Baitulmakmur. Ternyata Baitulmakmur itu setiap harinya dimasuki oleh tujuh puluh ribu malaikat, yang selanjutnya mereka tidak kembali lagi padanya. Kemudian malaikat Jibril membawaku naik ke Sidratul Muntaha, kedapatan daun-daunnya bagaikan telinga-telinga gajah dan buah-buahan bagaikan tempayan-tempayan yang besar. Ketika semuanya tertutup oleh nur Allah, semuanya menjadi berubah. Maka kala itu tidak ada seorang makhluk Allah pun yang dapat menggambarkan keindahannya. Rasulullah saw. melanjutkan kisahnya, maka Allah mewahyukan kepadaku secara langsung, dan Dia telah (mewajibkan) kepadaku lima puluh kali salat untuk setiap hari. Setelah itu lalu aku turun hingga sampai ke tempat Nabi Musa (langit yang keenam). Maka Nabi Musa bertanya kepadaku, ‘Apakah yang diwajibkan oleh Rabbmu atas umatmu?’ Aku menjawab, ‘Lima puluh kali salat untuk setiap harinya.’ Nabi Musa berkata, ‘Kembalilah kepada Rabbmu, lalu mintalah keringanan dari-Nya karena sesungguhnya umatmu niscava tidak akan kuat melaksanakannya; aku telah mencoba Bani Israel dan telah menguji mereka.’ Rasulullah saw. melanjutkan kisahnya, maka aku kembali kepada Rabbku, lalu aku memohon, ‘Wahai Rabbku, ringankanlah buat umatku.’ Maka Allah meringankan lima waktu kepadaku. Lalu aku kembali menemui Nabi Musa. Dan Nabi Musa bertanya, ‘Apakah yang telah kamu lakukan?’ Aku menjawab, ‘Allah telah meringankan lima waktu kepadaku.’ Maka Nabi Musa bertanya, ‘Sesungguhnya umatmu niscaya tidak akan kuat melakukan hal tersebut, maka kembalilah lagi kepada Rabbmu dan mintalah keringanan buat umatmu kepada-Nya.’ Rasulullah melanjutkan kisahnya, maka aku masih tetap mondar-mandir antara Rabbku dan Nabi Musa, dan Dia meringankan kepadaku lima waktu demi lima waktu. Hingga akhirnya Allah berfirman, ‘Hai Muhammad, salat lima waktu itu untuk tiap sehari semalam; pada setiap salat berpahala sepuluh salat, maka itulah lima puluh kali salat. Dan barang siapa yang berniat untuk melakukan kebaikan, kemudian ternyata ia tidak melakukannya dituliskan untuknya pahala satu kebaikan. Dan jika ternyata ia melakukannya, dituliskan baginva pahala sepuluh kali kebaikan. Dan barang siapa yang berniat melakukan keburukan, lalu ia tidak mengerjakannya maka tidak dituliskan dosanya. Dan jika ia mengerjakannya maka dituliskan baginva dosa satu keburukan.’ Setelah itu aku turun hingga sampai ke tempat Nabi Musa, lalu aku ceritakan hal itu kepadanya. Maka ia berkata, ‘Kembalilah kepada Rabbmu, lalu mintalah kepada-Nya keringanan buat umatmu, karena sesungguhnya umatmu tidak akan kuat melaksanakannya.’ Maka aku menjawab, ‘Aku telah mondar-mandir kepada Rabbku hingga aku malu terhadap-Nya.’” (Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim; dan lafal hadis ini berdasarkan Imam Muslim). Imam Hakim di dalam kitab Mustadrak meriwayatkan sebuah hadis melalui Ibnu Abbas r.a. yang menceritakan, bahwa Rasulullah saw. telah bersabda, “Aku melihat Rabbku Azza Wajalla.”

[TAFSIR] : AL-’ALAQ Surah ke 96

1 Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan,(QS. 96:1)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al ‘Alaq 1
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (1)
Dalam hadis sahih riwayat Bukhari dinyatakan bahkan Nabi SAW. datang ke gua Hira’ suatu gua yang terletak di atas sebuah bukit di pinggir kota Mekah untuk berkhalwat beberapa malam. Kemudian sekembali beliau pulang mengambil bekal dari rumah istri beliau, Khadijah, datanglah jibril kepada beliau dan menyuruhnya membaca.
Nabi menjawab: “Aku tidak bisa membaca” Jibril merangkulnya sehingga Nabi merasa sesak nafas. Jibril melepaskannya; sambil berkata: “Bacalah”. Nabi menjawab: “Aku tidak bisa membaca”. Lalu. dirangkulnya lagi dan dilepaskannya sambil berkata: “Bacalah”. Nabi menjawab: “Aku tidak bisa membaca” sehingga Nabi merasa payah, maka Jibril membacakan ayat 1 sampai ayat 5 surah Al `Alaq yang artinya:
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan.
Dia telah menciptakan manusia dari (sesuatu) yang melekat. Bacalah!.
dan Tuhanmu Yang Paling Pemurah.
Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam.
Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
Lalu Nabi SAW. dengan gemetar dan ketakutan pulang menemui istri beliau dan mengatakan: “Selimutilah aku! Selimutilah aku!”. Nabi terus diselimuti sehingga hilanglah kegelisahannya. Lalu beliau menceritakan kepada Khadijah apa yang terjadi dan beliau menambahkan: “Aku sangat khawatir apa yang akan terjadi atas diriku” Khadijah berkata: “Tak usah khawatir; malah seharusnya engkau gembira; demi Allah, sekali-kali Tuhan tidak akan menyusahkanmu. Engkau menghubungkan silaturrahmi, berbicara benar. membantu orang-orang yang tidak mampu, menghormati tamu dan meringankan kesulitan-kesulitan penderita”.
Kemudian Khadijah membawa Nabi SAW. menemui Waraqah bin Naufal (anak paman Khadijah). Waraqah bin Naufal adalah seorang beragama Nasrani. Ia banyak menulis buku yang berbahasa Arab dan bahasa Ibrani yang berasal dari Injil. Ia adalah seorang tua lagi buta.
Khadijah berkata kepadanya: “Wahai anak pamanku, dengarlah cerita dari anak saudaramu ini!”. Lalu Waraqah bertanya: “Apakah yang ingin engkau ketahui wahai anak saudaraku?”. Lalu Nabi SAW. menceritakan kepadanya apa yang telah terjadi di gua Hira’. Kemudian Waraqah berkata: “Itu adalah Jibril yang pernah datang menemui Isa A.S.; sekiranya saya ini seorang pemuda yang tangkas dan kiranya saya masih hidup ketika kaummu mengusirmu”, maka Nabi bertanya: “Apakah mereka akan mengusir aku?”. Jawab Waraqah: “Ya! hanya sedikit yang mengemban apa yang engkau bawa ini dan banyak yang memusuhinya, maka jika aku masih kuat hidup di waktu itu pasti aku akan membantumu sekuat-kuatnya”. Tidak lama sesudah itu Waraqahpun meninggal dunia. (HR. Imam Bukhari dan Muslim)
Berdasarkan hadis tersebut jelaslah bahwa lima ayat pertama surah Al `Alaq ini adalah ayat-ayat Alquran yang pertama kali diturunkan sebagai rahmat dan panggilan Allah yang pertama kali yang dihadapkan kepada Nabi SAW.
Adapun ayat-ayat lainnya diturunkan sesudah tersiarnya berita kerasulan Nabi SAW. dan sesudah Nabi mulai mengajak orang-rang beriman kepadanya. Ajakan Nabi ini pada mulanya disambut oleh sebahagian kecil orang-orang Quraisy, sedang kebanyakan mereka mengejek-ejek orang yang telah beriman dan berusaha agar jangan beriman kepada agama yang di bawa Muhammad dari Tuhannya.
Allah menyuruh Nabi agar membaca sedang beliau tidak pandai membaca dan menulis, maka dengan kekuasaan Allah ini beliau dapat mengikuti ucapan Jibril. Dan Allah akan menurunkan kepadanya suatu Kitab yang akan menjadi petunjuk bagi manusia.
Maksudnya, bahwa Allah yang menjadikan dan menciptakan seluruh makhluk Nya dari tidak ada kepada ada, sanggup menjadikan Nabi-Nya pandai membaca tanpa belajar.

2 Dia telah Menciptakan manusia dari segumpal darah.(QS. 96:2)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al ‘Alaq 2
خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ (2)
Dalam ayat ini Allah mengungkapkan cara bagaimana ia menjadikan manusia, yaitu manusia sebagai makhluk yang mulia dijadikan Allah dari sesuatu yang melekat dan diberinya kesanggupan untuk menguasai segala sesuatu yang ada di bumi ini serta menundukkannya untuk keperluan hidupnya dengan ilmu yang diberikan Allah kepadanya. Dan Dia berkuasa pula menjadikan insan kamil di antara manusia, seperti Nabi SAW. yang pandai membaca walaupun tanpa belajar.

3 Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Paling Pemurah,(QS. 96:3)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al ‘Alaq 3
اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ (3)
Dalam ayat ini Allah SWT memerintahkan kembali Nabi-Nya untuk membaca, karena bacaan tidak dapat melekat pada diri seseorang kecuali dengan mengulang-ngulangi dan membiasakannya, maka seakan-akan perintah mengulangi bacaan itu berarti mengulang-ulangi bacaan yang dibaca dengan demikian isi bacaan itu menjadi satu dengan jiwa Nabi SAW. sesuai dengan maksud firman Allah dalam ayat yang lain:

سنقرئك فلا تنسى

Artinya:
Kami akan membacakan (Alquran) kepadamu (Muhammad) maka kamu tidak akan lupa. (Q.S. Al ‘Alaq: 6)
Nabi SAW. dapat membaca adalah dengan kemurahan Allah. Dia mengabulkan permintaan orang-orang yang meminta kepada-Nya, maka dengan limpahan karunia-Nya dijadikan Nabi-Nya pandai membaca. Dengan demikian hilanglah keuzuran Nabi SAW. yang beliau kemukakan kepada Jibril ketika menyuruh beliau membaca: “Saya tidak pandai membaca, karena saya seorang buta huruf yang tak pandai membaca dan menulis”.

4 Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam.(QS. 96:4)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al ‘Alaq 4
الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (4)
Kemudian dengan ayat ini Allah menerangkan bahwa Dia menyediakan kalam sebagai alat untuk menulis, sehingga tulisan itu menjadi penghubung antar manusia walaupun mereka berjauhan tempat. sebagaimana mereka berhubungan dengan perantaraan lisan. Kalam sebagai benda padat yang tidak dapat bergerak dijadikan alat informasi dan komunikasi, maka apakah sulitnya bagi Allah menjadi Nabi-Nya sebagai manusia pilihan-Nya bisa membaca, berorientasi dan dapat pula mengajar.
Allah menyatakan bahwa Dia menjadikan manusia dari ‘Alaq lalu diajarinya berkomunikasi dengan perantaraan kalam. Pernyataan ini menyatakan bahwa manusia diciptakan dari sesuatu bahan hina dengan melalui proses, sampai kepada kesempurnaan sebagai manusia sehingga dapat mengetahui segala rahasia sesuatu, maka seakan-akan dikatakan kepada mereka, “Perhatikanlah hai manusia bahwa engkau telah berubah dari tingkat yang paling rendah hingga tingkat yang paling mulia, hal mana tidak mungkin terjadi kecuali dengan kehendak Allah Yang Maha Kuasa dan Maha Bijaksana menciptakan segala sesuatu sesuai dengan kehendak-Nya.

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al ‘Alaq 4
الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (4)
(Yang mengajar) manusia menulis (dengan qalam) orang pertama yang menulis dengan memakai qalam atau pena ialah Nabi Idris a.s.

5 Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.(QS. 96:5)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al ‘Alaq 5
عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ (5)
Kemudian dalam ayat ini Allah menambahkan keterangan tentang limpahan karunia-Nya yang tidak terhingga kepada manusia, bahwa Allah yang menjadikan Nabi-Nya yang tidak terhingga kepada manusia, bahwa Allah yang menjadikan Nabi-Nya pandai membaca. Dialah Tuhan yang mengajar manusia bermacam-macam ilmu pengetahuan yang bermanfaat baginya yang menyebabkan dia lebih utama dari pada binatang-binatang, sedangkan manusia pada permulaan hidupnya tidak mengetahui apa-apa. Oleh sebab itu apakah menjadi suatu keanehan bahwa Dia mengajar Nabi-Nya pandai membaca dan mengetahui bermacam-macam ilmu pengetahuan serta Nabi SAW. sanggup menerimanya.
Dengan ayat-ayat ini terbuktilah tentang tingginya nilai membaca, menulis dan berilmu pengetahuan. Andaikata tidak karena kalam niscaya banyak ilmu pengetahuan yang tidak terpelihara dengan baik. banyak penelitian yang tidak tercatat dan banyak ajaran agama hilang pengetahuan orang dahulu kala tidak dapat dikenal oleh orang-orang sekarang baik ilmu, seni dan ciptaan-ciptaan mereka.
Demikian pula tanpa pena tidak dapat diketahui sejarah orang-orang yang berbuat baik atau yang berbuat jahat dan tidak ada pula ilmu pengetahuan yang menjadi pelita bagi orang-orang yang datang sesudah mereka. Lagi pula ayat ini sebagai bukti bahwa manusia yang dijadikan dari benda mati yang tidak berbentuk dan tidak berupa dapat dijadikan Allah menjadi manusia yang sangat berguna dengan mengajarinya pandai menulis, berbicara dan mengetahui semua macam ilmu yang tidak pernah diketahuinya.

6 Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas,(QS. 96:6)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al ‘Alaq 6 – 7
كَلَّا إِنَّ الْإِنْسَانَ لَيَطْغَى (6) أَنْ رَآهُ اسْتَغْنَى (7)
Dalam ayat-ayat ini Allah mengungkapkan keanehan sikap manusia pada umumnya. Manusia bila ia berkuasa dan mempunyai harta, sikapnya berubah dari yang seharusnya. Ia menjadi takabur, segan menghambakan dirinya kepada Allah dan menganggap dirinya yang paling baik. Padahal dia dan orang lain itu adalah anggota satu keluarga yang harus bantu membantu dan tolong-menolong dalam kesenangan dan kesengsaraan serta mengingini kebaikan bagi anggota keluarga lainnya sebagaimana ia mencintai kebaikan untuk dirinya.
Nabi SAW. bersabda:

المؤمن للمؤمن كالبنيان يشد بعضه بعضا.
Artinya:
“Orang mukmin sesama mukmin lainnya seolah-olah suatu bangunan yang saling kokoh mengokohkan”. (H.R. Bukhari)
Telah diriwayatkan pula bahwa Sayidina Ali menasihati anaknya Hasan. Ia berkata: “Inginkanlah kebaikan bagi orang lain sebagaimana engkau menginginkannya untuk dirimu dan jangan menginginkan bagi orang lain apa yang tidak engkau inginkan untuk dirimu”.
Pada umumnya manusia itu bila merasa kuat dan mempunyai kekayaan dia berbuat melampaui batas, berlainan dengan orang yang bertakwa, kekayaannya akan menjadi sumber kebaikan dengan tujuan membantu mereka untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat, karena mereka akan menggunakannya menurut keridaan Allah yang kegunaannya bermanfaat untuk agama dan dunia mereka.

7 karena dia melihat dirinya serba cukup.(QS. 96:7)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al ‘Alaq 6 – 7
كَلَّا إِنَّ الْإِنْسَانَ لَيَطْغَى (6) أَنْ رَآهُ اسْتَغْنَى (7)
Dalam ayat-ayat ini Allah mengungkapkan keanehan sikap manusia pada umumnya. Manusia bila ia berkuasa dan mempunyai harta, sikapnya berubah dari yang seharusnya. Ia menjadi takabur, segan menghambakan dirinya kepada Allah dan menganggap dirinya yang paling baik. Padahal dia dan orang lain itu adalah anggota satu keluarga yang harus bantu membantu dan tolong-menolong dalam kesenangan dan kesengsaraan serta mengingini kebaikan bagi anggota keluarga lainnya sebagaimana ia mencintai kebaikan untuk dirinya.
Nabi SAW. bersabda:

المؤمن للمؤمن كالبنيان يشد بعضه بعضا.
Artinya:
“Orang mukmin sesama mukmin lainnya seolah-olah suatu bangunan yang saling kokoh mengokohkan”. (H.R. Bukhari)
Telah diriwayatkan pula bahwa Sayidina Ali menasihati anaknya Hasan. Ia berkata: “Inginkanlah kebaikan bagi orang lain sebagaimana engkau menginginkannya untuk dirimu dan jangan menginginkan bagi orang lain apa yang tidak engkau inginkan untuk dirimu”.
Pada umumnya manusia itu bila merasa kuat dan mempunyai kekayaan dia berbuat melampaui batas, berlainan dengan orang yang bertakwa, kekayaannya akan menjadi sumber kebaikan dengan tujuan membantu mereka untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat, karena mereka akan menggunakannya menurut keridaan Allah yang kegunaannya bermanfaat untuk agama dan dunia mereka.

8 Sesungguhnya hanya kepada Tuhanmulah kembali (mu).(QS. 96:8)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al ‘Alaq 8
إِنَّ إِلَى رَبِّكَ الرُّجْعَى (8)
Kemudian pada ayat ini Allah memperingatkan bahwa tempat kembali segala urusan adalah kepada Allah. Dialah yang memiliki segala urusan manusia dan segala apa yang dimiliki oleh manusia itu. Perbuatan tipu daya dan kehinaan baik kecil maupun besar yang pernah dilahirkannya akan dipertanggungjawabkannya di akhirat kelak.
Dalam ayat lain yang serupa maksudnya Allah berfirman:

ولا تحسبن الله غافلا عما يعمل الظالمون إنما يؤخرهم ليوم تشخص فيه الأبصار مهطعين مقنعي رءوسهم لا يرتد إليهم طرف وأفئدتهم هواء
Artinya:
Dan janganlah sekali-kali kamu (Muhammad) mengira, bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zalim. Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak. Mereka datang tergesa-gesa memenuhi panggilan dengan mengangkat kepalanya, sedang mata mereka tidak berkedip-kedip dan hati mereka kosong.

9 Bagaimana pendapatmu tentang orang yang melarang,(QS. 96:9)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al ‘Alaq 9 – 10
أَرَأَيْتَ الَّذِي يَنْهَى (9) عَبْدًا إِذَا صَلَّى (10)
Pada ayat-ayat ini Allah menyatakan ancaman dan kebencian-Nya yang diungkapkan dalam bentuk perintah, supaya memperhatikan keanehan sikap orang bodoh ini; kesombongan, ketakaburan dan kecongkakannya yang sangat hebat sehingga ia berani melarang hamba-hamba Allah mengerjakan salat. Padahal ia bukan pencipta, bukan pula pemberi rezeki. Bagaimana ia berani melakukan yang demikian itu, sedangkan dia sendiri harus tunduk kepada Allah Yang Maha Kuasa.
Telah diriwayatkan bahwa Sayidina Ali Karamallahu wajhah pernah melihat orang-orang salat sebelum salat Id di Suatu lapangan; lalu beliau berkata, “Saya tidak pernah melihat Nabi SAW. mengerjakannya”. Mereka bertanya: “Apakah engkau melarang mengerjakannya?” Ali menjawab: “Saya khawatir kalau saya melarang tentu saya termasuk orang-orang yang dimaksud oleh Allah dalam firman-Nya, “Bagaimana pendapatmu tentang seseorang yang melarang hamba Allah apabila ia mengerjakan salat”.

10 seorang hamba ketika dia mengerjakan shalat,(QS. 96:10)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al ‘Alaq 9 – 10
أَرَأَيْتَ الَّذِي يَنْهَى (9) عَبْدًا إِذَا صَلَّى (10)
Pada ayat-ayat ini Allah menyatakan ancaman dan kebencian-Nya yang diungkapkan dalam bentuk perintah, supaya memperhatikan keanehan sikap orang bodoh ini; kesombongan, ketakaburan dan kecongkakannya yang sangat hebat sehingga ia berani melarang hamba-hamba Allah mengerjakan salat. Padahal ia bukan pencipta, bukan pula pemberi rezeki. Bagaimana ia berani melakukan yang demikian itu, sedangkan dia sendiri harus tunduk kepada Allah Yang Maha Kuasa.
Telah diriwayatkan bahwa Sayidina Ali Karamallahu wajhah pernah melihat orang-orang salat sebelum salat Id di Suatu lapangan; lalu beliau berkata, “Saya tidak pernah melihat Nabi SAW. mengerjakannya”. Mereka bertanya: “Apakah engkau melarang mengerjakannya?” Ali menjawab: “Saya khawatir kalau saya melarang tentu saya termasuk orang-orang yang dimaksud oleh Allah dalam firman-Nya, “Bagaimana pendapatmu tentang seseorang yang melarang hamba Allah apabila ia mengerjakan salat”.

11 bagaimana pendapatmu jika orang yang melarang itu berada di atas kebenaran,(QS. 96:11)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al ‘Alaq 11 – 12
أَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ عَلَى الْهُدَى (11) أَوْ أَمَرَ بِالتَّقْوَى (12)
Dalam ayat-ayat ini Allah menambah keterangan-Nya terhadap orang durhaka ini dalam bentuk pertanyaan, yaitu perhatikanlah, “Kiranya orang berbudi pekerti baik, menyeru kepada kebaikan dan memanggil kepada takwa, bukankah yang demikian itu lebih baik daripada kafir kepada Allah serta melarang orang menaati-Nya? Karena dengan kekafirannya itu akan kehilangan kedudukan yang paling mulia dan jatuh ke lubuk yang paling hina”.
Maksudnya, bukankah lebih baik baginya mendapat petunjuk serta dapat pula menyuruh orang lain ke jalan yang benar. Dan ini adalah sikap Nabi SAW. karena usaha beliau ada kalanya membentuk diri sendiri dengan beribadat, seperti mendirikan salat mengerjakan puasa dan lain-lain. Dan ada kalanya pula berusaha memperbaiki keadaan orang lain dengan memanggil mereka kepada jalan yang benar dan kepada takwa.

12 atau dia menyuruh bertakwa (kepada Allah)?(QS. 96:12)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al ‘Alaq 11 – 12
أَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ عَلَى الْهُدَى (11) أَوْ أَمَرَ بِالتَّقْوَى (12)
Dalam ayat-ayat ini Allah menambah keterangan-Nya terhadap orang durhaka ini dalam bentuk pertanyaan, yaitu perhatikanlah, “Kiranya orang berbudi pekerti baik, menyeru kepada kebaikan dan memanggil kepada takwa, bukankah yang demikian itu lebih baik daripada kafir kepada Allah serta melarang orang menaati-Nya? Karena dengan kekafirannya itu akan kehilangan kedudukan yang paling mulia dan jatuh ke lubuk yang paling hina”.
Maksudnya, bukankah lebih baik baginya mendapat petunjuk serta dapat pula menyuruh orang lain ke jalan yang benar. Dan ini adalah sikap Nabi SAW. karena usaha beliau ada kalanya membentuk diri sendiri dengan beribadat, seperti mendirikan salat mengerjakan puasa dan lain-lain. Dan ada kalanya pula berusaha memperbaiki keadaan orang lain dengan memanggil mereka kepada jalan yang benar dan kepada takwa.

13 Bagaimana pendapatmu jika orang yang melarang itu mendustakan dan berpaling?(QS. 96:13)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al ‘Alaq 13 – 14
أَرَأَيْتَ إِنْ كَذَّبَ وَتَوَلَّى (13) أَلَمْ يَعْلَمْ بِأَنَّ اللَّهَ يَرَى (14)
Allah menambahkan keterangan dalam bentuk pertanyaan yaitu: “Perhatikanlah pula keadaan si kafir ini. Jika ia mendustakan dalil-dalil ketauhidan Allah, tanda-tanda kekuasaan-Nya, dan tidak mau juga mempedulikan panggilan Rasul serta membujuk orang agar tidak mendengar panggilan. Apakah ia tidak khawatir akan ditimpa bahaya atau akan turun atasnya azab Allah yang tak dapat dipikulnya? Apakah tidak dipikirkannya bahwa Allah pencipta alam semesta ini memperhatikan tindakan-tindakannya? Dia tidak akan membiarkannya, malah semua kejahatannya akan mendapat balasan.

14 Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat segala perbuatannya?(QS. 96:14)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Maaf, Belum tersedia …atau lihat pada ayat sebelumnya…

15 Ketahuilah, sungguh jika dia tidak berhenti (berbuat demikian) niscaya Kami tarik ubun-ubunnya,(QS. 96:15)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al ‘Alaq 15 – 16
كَلَّا لَئِنْ لَمْ يَنْتَهِ لَنَسْفَعًا بِالنَّاصِيَةِ (15) نَاصِيَةٍ كَاذِبَةٍ خَاطِئَةٍ (16)
Allah memperkeras ancaman-Nya dalam bentuk sumpah. Sesungguhnya jika si kafir itu tidak henti-hentinya berdusta, melakukan kebodohan dan melarang orang-orang mengerjakan salat niscaya akan kami tarik ubun-ubunnya dengan keras dan melemparkannya ke dalam neraka.

16 (yaitu) ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka.(QS. 96:16)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Maaf, Belum tersedia …atau lihat pada ayat sebelumnya…

17 Maka biarlah dia memanggil golongannya (untuk menolongnya),(QS. 96:17)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al ‘Alaq 17 – 18
فَلْيَدْعُ نَادِيَهُ (17) سَنَدْعُ الزَّبَانِيَةَ (18)
Allah memperolok-olokkan si kafir itu, Kami suruh mereka memanggil pembantu-pembantunya dari kalangan kaumnya yang mencintainya untuk melindunginya dari azab yang akan menimpanya. Jika si kafir berani melakukan yang demikian itu, yaitu menantang Allah dan menghadapkan dirinya kepada kemarahan-Nya, niscaya Allah akan memanggil pula tentara-tentara-Nya yang gagah perkasa yang tidak ada seorangpun sanggup menghadapinya. Bala tentara Allah itu akan membinasakan si kafir itu bersama pembantu-pembantunya dan akan melemparkannya ke dalam neraka.
Bala tentara Allah adalah malaikat-malaikat yang diutus untuk menyiksa hamba-hamba-Nya yang sesat. Mereka diberi nama dengan Zabaniyah karena mereka menghalau orang-orang kafir ke dalam neraka.
Telah diriwayatkan tentang Abu Jahal bahwa ia pada suatu waktu marah dan berkata kepada Nabi SAW., “Hai Muhammad! Dengan siapa engkau menakut-nakuti saya? Sesungguhnya pembantu-pembantuku banyak sekali memenuhi semenanjung ini” Ia berkata pula. “Jika aku melihat Muhammad melakukan salat di Kakbah aku akan menginjak lehernya”. Ketika ucapannya ini sampai ke telinga Nabi SAW. beliau berkata, “Bila ia melakukan yang demikian itu pasti malaikat akan mengambilnya.

18 kelak Kami akan memanggil malaikat Zabaniyah,(QS. 96:18)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Maaf, Belum tersedia …atau lihat pada ayat sebelumnya…

19 sekali-kali jangan, janganlah kamu patuh kepadanya; dan sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Tuhan).(QS. 96:19)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al ‘Alaq 19
كَلَّا لَا تُطِعْهُ وَاسْجُدْ وَاقْتَرِبْ (19)
Kemudian dalam ayat ini Allah menguatkan lagi ancaman-Nya kepada orang kafir yang menentang dan takabur itu dengan menegaskan bahwa mereka tidak akan sanggup menghadapi kekuatan Allah; oleh karena orang-orang kafir bersama pembantunya tidak akan sanggup berhadapan dengan kekuatan Allah, maka Ia melarang Nabi-Nya mematuhi si kafir itu, sebagaimana dalam ayat lain yang bersamaan artinya Allah berfirman:

فلا تطع المكذبين
Artinya:
Maka janganlah kamu ikuti orang-orang yang mendustakan (ayat-ayat Allah).
Sebaliknya beribadat dan bersujud untuk mendekatkan diri kepada Allah dan meninggalkan ibadat itu berarti menjauhkan diri dari Allah-dan keadaan seseorang yang paling dekat kepada Allah adalah ketika ia sedang s

(QS. 2:256) Surah Al Baqarah 256

December 21, 2008

1
لاَإِكْرَاهَفِيالدِّينِقَدتَّبَيَّنَالرُّشْدُمِنَالْغَيِّفَمَنْيَكْفُرْبِالطَّاغُوتِوَيُؤْمِنبِاللّهِفَقَدِاسْتَمْسَكَبِالْعُرْوَةِالْوُثْقَىَلاَانفِصَامَلَهَاوَاللّهُسَمِيعٌ عَلِيمٌ

Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang salah. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
(QS. 2:256) ::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

==================

256 Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang salah. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.(QS. 2:256)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Baqarah 256
لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لَا انْفِصَامَ لَهَا وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ (256)
Ada suatu riwayat tentang sebab turunnya ayat ini, seorang lelaki bernama Abu Al-Husain dari keluarga Bani Salim Ibnu Auf mempunyai dua orang anak lelaki yang telah memeluk agama Nasrani sebelum Nabi Muhammad saw. diutus Tuhan sebagai nabi. Kemudian kedua anak itu datang ke Madinah (setelah datangnya agama Islam), maka ayah mereka selalu meminta agar mereka masuk agama Islam dan ia berkata kepada mereka, “Saya tidak akan membiarkan kamu berdua, hingga kamu masuk Islam.” Mereka lalu mengadukan perkaranva itu kepada Rasulullah saw. dan ayah mereka berkata, “Apakah sebagian dari tubuhku akan masuk neraka?” Maka turunlah ayat ini, lalu ayah mereka membiarkan mereka itu tetap dalam agama semula.
Jadi, tidak dibenarkan adanya paksaan. Kewajiban kita hanyalah menyampaikan agama Allah kepada manusia dengan cara yang baik dan penuh kebijaksanaan serta dengan nasihat-nasihat yang wajar sehingga mereka masuk agama Islam dengan kesadaran dan kemauan mereka sendiri.
Apabila kita sudah menyampaikan kepada mereka dengan cara yang demikian tetapi mereka tidak juga mau beriman itu bukanlah urusan kita melainkan urusan Allah swt. Kita tidak boleh memaksa mereka. Dalam ayat yang lain Allah swt. telah berfirman yang artinya, “Apakah Engkau ingin memaksa mereka hingga mereka itu menjadi orang-orang yang beriman?”
Dengan datangnya agama Islam, maka jalan yang benar sudah tampak dengan jelas dan dapat dibedakan dari jalan yang sesat. Maka tidaklah boleh adanya pemaksaan untuk beriman karena iman tersebut adalah keyakinan dalam hati sanubari dan tak seorang pun dapat memaksa hati seorang untuk meyakini sesuatu apabila ia sendiri tidak bersedia.
Ayat-ayat Alquran yang menerangkan kenabian Muhammad saw. sudah cukup jelas. Maka terserahlah kepada setiap orang apakah ia akan beriman atau kafir setelah kita menyampaikan ayat-ayat itu kepada mereka. Inilah etika dakwah Islam. Adapun suara-suara yang mengatakan bahwa agama Islam dikembangkan dengan pedang itu hanyalah omong kosong dan fitnahan belaka. Umat Islam di Mekah sebelum berhijrah ke Madinah hanya melakukan salat dengan cara sembunyi dan mereka tidak mau melakukan secara demonstratif terhadap kaum kafir. Ayat ini turun kira-kira pada tahun ketiga sesudah hijrah, yaitu setelah umat Islam memiliki kekuatan yang nyata dan jumlah mereka telah bertambah banyak namun mereka tidak diperbolehkan melakukan paksaan terhadap orang-orang yang bukan muslim, baik paksaan secara halus apalagi dengan kekerasan.
Adapun peperangan yang telah dilakukan umat Islam, baik di Jazirah Arab maupun di negeri-negeri lain seperti di Mesir, Persia dan sebagainya, itu hanyalah semata-mata suatu tindakan bela diri terhadap serangan-serangan kaum kafir kepada mereka, dan untuk mengamankan jalannya dakwah Islam. Sehingga orang-orang kafir itu dapat dihentikan dari kezaliman, memfitnah dan mengganggu umat Islam karena menganut dan melaksanakan agama mereka dan agar kaum kafir itu dapat menghargai kemerdekaan pribadi dan hak-hak asasi manusia dalam menganut keyakinan.
Di daerah-daerah yang telah dikuasai kaum muslimin, orang-orang yang belum menganut agama Islam diberi hak dan kemerdekaan untuk memilih apakah mereka akan memeluk agama Islam ataukah akan tetap dalam agama mereka. Jika mereka memilih untuk tetap dalam agama semula, maka mereka diharuskan membayar “jizyah”, yaitu semacam pajak sebagai imbangan dari perlindungan yang diberikan pemerintah Islam kepada mereka. Dan keselamatan mereka di jamin sepenuhnya asal mereka tidak melakukan tindakan-tindakan yang memusuhi Islam dan umatnya.
Ini juga merupakan suatu bukti yang jelas bahwa umat Islam tidak melakukan paksaan, bahkan tetap menghormati kemerdekaan beragama, walaupun terhadap golongan minoritas yang berada di daerah-daerah kekuasaan mereka. Sebaliknya dapat kita lihat dari bukti-bukti sejarah, baik pada masa dahulu, maupun pada zaman modern sekarang ini, betapa malangnya nasib umat Islam apabila mereka menjadi golongan minoritas pada suatu negara.
Ayat ini selanjutnya menerangkan, bahwa siapa-siapa yang sudah tidak lagi percaya kepada tagut, atau tidak lagi menyembah patung, atau benda yang lain, melainkan beriman dan menyembah Allah semata-mata, maka ia telah mendapatkan pegangan yang kokoh, laksana tali yang kuat yang tak akan putus. Dan iman yang sebenarnya adalah iman yang diyakini dalam hati, diucapkan dengan lidah dan diiringi dengan perbuatan. Itulah sebabnya, maka pada akhir ayat, Allah berfirman yang artinya, “Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” Artinya Allah senantiasa mendengar apa yang diucapkan dan Dia lalu mengetahui apa yang diyakini dalam hati, dan apa yang diperbuat oleh anggota badan. Dan Allah akan membalas amal seseorang sesuai dengan iman, perkataan dan perbuatan mereka masing-masing.

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al Baqarah 256
لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لَا انْفِصَامَ لَهَا وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ (256)
(Tidak ada paksaan dalam agama), maksudnya untuk memasukinya. (Sesungguhnya telah nyata jalan yang benar dari jalan yang salah), artinya telah jelas dengan adanya bukti-bukti dan keterangan-keterangan yang kuat bahwa keimanan itu berarti kebenaran dan kekafiran itu adalah kesesatan. Ayat ini turun mengenai seorang Ansar yang mempunyai anak-anak yang hendak dipaksakan masuk Islam. (Maka barang siapa yang ingkar kepada tagut), maksudnya setan atau berhala, dipakai untuk tunggal dan jamak (dan dia beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada simpul tali yang teguh kuat) ikatan tali yang kokoh (yang tidak akan putus-putus dan Allah Maha Mendengar) akan segala ucapan (Maha Mengetahui) segala perbuatan.

=======================

256 Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang salah. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.(QS. 2:256)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / Sebab turun / Surah Al Baqarah 256
لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لَا انْفِصَامَ لَهَا وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ (256)
Diriwayatkan oleh Abu Daud, Nasai dan Ibnu Hibban, dari Ibnu Abbas, katanya, “Ada seorang wanita yang sering keguguran, maka dia berjanji pada dirinya, sekiranya ada anaknya yang hidup, akan dijadikannya seorang Yahudi. Maka tatkala Bani Nadhir diusir dari Madinah, kebetulan di antara mereka ada anak Ansar, maka kata orang-orang Ansar, ‘Kami tak akan membiarkan anak-anak kami,’ maka Allah pun menurunkan, ‘Tak ada paksaan dalam agama.’” (Q.S. Al-Baqarah 256) Ibnu Jarir mengetengahkan, dari jalur Said atau Ikrimah dari Ibnu Abbas, katanya, “Tak ada paksaan dalam agama.” Ayat itu turun mengenai seorang Ansar dari Bani Salim bin Auf bernama Hushain, yang mempunyai dua orang anak beragama Kristen, sedangkan ia sendiri beragama Islam. Maka katanya kepada Nabi saw., “Tidakkah akan saya paksa mereka, karena mereka tak hendak meninggalkan agama Kristen itu?” Maka Allah pun menurunkan ayat tersebut.


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.